Thursday, March 22, 2018

UPAYA PENINGKATAN TEKNIK HEADING BOLA DALAM PERMAINAN SEPAK BOLA

Sport_Medicine_Online

Permainan Sepak Bola

Permainan sepakbola merupakan olahraga yang cukup popular di dunia. Hampir setiap orang menyenangi permainan sepakbola. Permainan sepakbola mempunyai daya tarik tersendiri, jika dibandingkan dengan cabang olahraga permainan lainnya. Beltasar Tarigan (2001: 2) menyatakan, “Daya tarik permainan sepakbola adalah keterampilan memperagakan teknik dalam mengolah bola, penampilan usaha yang sungguh-sungguh penuh perjuangan, gerakan yang dinamis, disertai dengan kejutan-kejutan taktik, yang membuat penonton kagum melihatnya”.
          Hal ini artinya, permainan sepakbola merupakan cabang olahraga yang cukup kompleks dalam pelaksanaan permainannya, sehingga menuntut cabang olahraga yang cukup harus mampu memcahkan masalah yang terjadi di dalam permainan misalnya, bagaimana memperagakan sebuah teknik yang serasi, ditinjau dari posisi lawan dan kawan. Selain itu juga, penerapan taktik dan strategi juga tidak kalah pentingnya dalam permainan sepakbola agar dapat memenangkan pertandingan. Prinsip dalam permainan sepakbola cukup sederhana, yaitu berusaha memasukkan bola ke gawang lawannya sebanya mungkin dan berusaha menggagalkan serangan lawan untuk melindngi atau menjaga agar gawangnya tidak kemasukan bola. Dalam hal ini Jef Sneyers (1988: 3) menyatakan, “Prinsip dalam sepakbola sederhana sekali yaitu membuat gold an mencegah jangan sampai lawan berbuat sama terhadap gawang sendiri”. Menurut Joseph A. Lauxbacher (1997 :2) bahwa, “Sepakbola adalah olahraga tim sehingga masing-masing tim mempertahankan gawangnya dan berusaha menjebol gawang lawannya”. Menurut Soekatamsi (1995: 11) bahwa, “Tujuan dari masing-masing 8 regu atau kesebelasan adalah berusaha untuk memasukkan bola ke dalam gawang lawannya sebanyak mungkin dan berusaha menggagalkan serangan lawan untuk melindungi atau menjaga agar gawangnya tidak kemasukan bola”. Berdasarkan tiga pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa, prinsip dari permainan sepakbola yaitu mencetak gol ke gawang lawan sebanyak-banyaknya dan berusaha menggagalkan setiap serangan dari lawan yang ingin memasukkan bola ke gawangnya dengan sportif, tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku. Untuk memasukkan bola ke gawang lawan sebanyak-banyaknya dan mencegah lawan membuat hal sama terhadap timnya dibutuhkan kemampuan teknik, taktik dan strategi permainan yang baik.
Macam-Macam Teknik Dasar Bermain Sepakbola
          Sepakbola merupakan olahraga permainan yang menuntut kualitas fisik dan teknik yang harus diperagakan menurut kebutuhannya. Adakalanya seorang pemain sepakbola lari dengan cepat menyongsong bola atau lari sambil menggiring bola. Hal tersebut menunjukkan bahwa, teknik bermain sepakbola terdiri dua komponen yang saling berkaitan satu sama lainnya. Arma Abdoellah (1982: 416) menyatakan, “Unsur-unsur satu dengan yang lain sangat erat hubungannya dan sukar untuk dipisah-pisahkan. Pada garis besarnya teknik sepakbola dapat dibagi menjadi dua yaitu, (1) teknik badan (body technics), (2) teknik dengan bola. Menurut Remmy Muchtar (1992: 27) bahwa, “teknik sepakbola adalah cara pengolahan bola maupun pengolahan gerak tubuh dalam bermain”. Menurut Soekatamsi (1995: 14) teknik dasar bermain sepakbola adalah, “semua cara pelaksanaan gerakan-gerakan yang diperlukan untuk bermain sepakbola, terlepas sama sekali dari permainannya”. Berdasarkan tiga pendapat tersebut menunjukkan bahwa, teknik dasar bermain sepakbola dikelompokkan menjadi dua macam yaitu, teknik tanpa bola (teknik badan) dan teknik dengan bola. Teknik badan atau teknik tanpa bola pada dasarnya bertujuan mengembangkan kemampuan fisik untuk mencapai kesegaran jasmani (physical fitness) agar dapat bermain sepakbola dengan sebaik-baiknya.
4 unsur teknik tanpa bola menurut Soekatamsi (1995: 16) terdiri dari :
(1)          Lari cepat dan merubah arah (2) Melompat dan meloncat (3) Gerak tipu tanpa bola yaitu gerakan tipu dengan badan, (4) Gerakan-gerakan khusus untuk penjaga gawang”. Teknik dengan bola merupakan cara-cara memainkan bola, yang akan digunakan untuk mendukung keterampilan teknik bermain sepakbola.
Keterampilan teknik bermain sepakbola merupakan penerapan teknik dasar dalam bermain sepakbola. Keterampilan teknik bermain sepakbola ini sebagai hasil dari latihan yang sistematis dan terus-menerus. Lebih lanjut Soekatamsi (1995: 16) unsure-unsur teknik dengan bola meliputi :
1)   Mengenal bola.
2)   Menendang bola.
3)   Menerima bola :
a)    Menghentikan bola.
b)   Mengontrol bola.
4)   Menggiring bola.
5)   Heading bola.
6)   Melempar bola.
7)   Gerak tipu dengan bola.
8)   Merampas atau merebut bola.
9)   Teknik-teknik khusus penjaga gawang.
Unusur teknik tanpa bola dan unsur teknik dengan bola pada prinsipnya memiliki keterkaitan yang erat dalam pelaksanaan bermain sepakbola. Kedua teknik dasar tersebut harus mampu diperagakan atau dikombinasikan di dalam permainan menurut kebutuhannya. Kualitas dan kemampuan teknik yang baik akan mendukung penampilan seorang pemain. Semakin baik penguasaan teknik dasar bermain sepakbola, maka semakin efektif dan efisien dalam melakukan gerakan-gerakan dalam bermain sepakbola.
3.       Pentingnya Menguasai Teknik Dasar Bermain Sepakbola
          Sepakbola adalah permainan yang menuntut gerakan yang kompleks dalam permainannya. Keberhasilan atau kemenangan suatu tim tidak terlepas dari penguasaan teknik yang baik, kerjasama tim yang kompak, penerapan taktik dan strategi serta mental yang baik.
            Menguasai teknik dasar bermain sepakbola merupakan factor yang paling awal yang harus dikuasai agar dapat bermain sepakbola dengan baik. Dengan menguasai teknik dasar bermain sepakbola, member peluang yang besar untuk memenangkan pertandingan. Arma Abdoellah (1981: 320) menyatakan, “Kemampuan menguasai teknik merupakan syarat utama bagi setiap pemain, dimana sangat erat hubungannya dengan prestasi seseorang sebagai anggota tim”. Menurut Remmy Muchtar (1992: 27) bahwa, “Untuk dapat bermain sepakbola dengan baik perlu menguasai teknik dengan baik pula. Tanpa penguasaan teknik yang baik tidak mungkin dpaat menguasai atau mengontrol bola dengan baik”. Menurut A. Sarumpaet, Zulfar Djazet, Parno dan Imam Sadikun (1992: 47) bahwa, “Dalam usaha meningkatkan mutu permainan kearah prestasi maka masalah teknik merupakan salah satu persyaratan yang menentukan”. Berdasarkan pendapat para ahli tersebut menunjukkan bahwa, hal yang mendasar dan harus dikuasai agar dapat bermain sepakbola dengan baik adalah menguasai teknik dasar bermain sepakbola. Dengan menguasai teknik dasar bermain sepakbola akan dapat mendukung penampilannya dalam bermain sepakbola baik secara individu maupun tim. Semakin baik seorang pemain menguasai teknik dasar bermain sepakbola, maka ia akan memiliki keterampilan teknik bermain sepakbola. Selain itu juga, penguasaan teknik seorang pemain akan mempengaruhi penerapan taktik dan strategi permainan, sehingga hal ini akan dapat mempengaruhi penerapan taktik dan strategi permainan, sehingga hal ini akan dapat mempengaruhi kualitas tim, bahkan dapat mempengaruhi menang atau kalahnya suatu tim. Oleh karena itu, melatih teknik dasar bermain sepakbola adalah langkah awal yang harus dilakukan seorang pemain sepakbola.
4.         Kondisi Fisik Dalam Permainan Sepakbola
             Kondisi fisik yang prima merupakan unsure penting dalam permainan sepakbola. Dengan kondisi fisik yang prima akan dapat membantu penampilan seorang pemain sepakbola. Soekarman (1986: 128) menyatakan, “Bagaimana pun pandainya mereka bermain sepakbola serta bagaimana pun baiknya pelatih teknik, tetapi kalau tidak ditunjang oleh kondisi fisik yang diperlukan untuk bermain selama 90 menit, maka prestasinya tidak akan dapat menonjol”. Pendapat tersebut menunjukkan bahwa, kemampuan fisik yang baik sangat membantu penguasaan teknik dasar bermain sepakbola. Kemampuan teknik yang baik tanpa didukung kondisi fisik yang prima, teknik yang dimiliki kurang maksimal pemanfaatannya dalam bermain sepakbola. Remmy Muchtar (1992: 81) menyatakan, “Di samping kemahiran teknik, maka kualitas fisik yang terdiri atas berbagai unsure merupakan syarat mutlak dalam sepakbola”.
            Untuk mecapai kualitas fisik yang bai, dibutuhkan latihan fisik yang teratur dan terprogram dengan baik. Hanya dengan latihan fisik yang teratur dan terprogram maka tubuh akan terbiasa dengan tuntutan fisik yang besar saat berlatih maupun bertanding. Ditinjau dari gerakan-gerakan yang dilakukan dalam permainan sepakbola, pemain selalu dituntut selalu bergerak seperti gerakan lari cepat, jogging, meloncat, meluncur, menendang bola, menggiring bola dan lain sebagainya. Untuk melakukan gerakan-gerakan dalam permainan sepakbola, maka dibutuhkan kemampuan fisik yang baik. Soekarman (1986: 128) menyatakan, “kekuatan-kekuatan yang menunjang dalam permainan sepakbola di antaranya kekuatan anaerobic, kekuatan aerobic, kecepatan dan melocnat, kelincahan dan kekuatan tubuh yang diperlukan dalam olahraga sepakbola”. Menurut M. Furqon H. (2003: 27) bahwa, “Unsur-unsur dominan dalam cabang olahraga sepakbola yaitu : koordinasi, semangat kerjasama, daya tahan terhadap kelelahan dan tekanan, kapasitas anaerobic dan aerobic tinggi dan intelegensi taktis”. Pendapat lain dikemukakan Remmy Muchtar (1992: 82-97) bahwa latihan kondisi fisik dalam permainan sepakbola dibedakan menjadi dua yaitu :
1)      Kondisi fisik umum (general physical condition) yaitu latihan kondisi fisik umum adalah latihan kondisi fisik yang belum dikaitkan dengan cabang olahraga tertentu. Dengan kata lain, pembentukan kondisi fisik tersebut masih bersifat umum dan dasar. Komponen-komponen kondisi fisiksecara umum di antaranya : power, kekuatan, daya tahan, kelentukan, kelincahan.
2)      Latihan kondisi fisik khusus (specific physical conditioning) adalah latihan untuk membina kemampuan fisik yang khusus sesuai dengan tuntutan cabang olahraga sepakbola. Latihan kondisi fisik khusus dibedakan menjadi dua yaitu :
a) Latihan fisik khusus tanpa bola yaitu merupakan latihan dengan kegiatan yang secara langsung berkaitan dengan cabang olahraga sepakbola. Latihan fisik tanpa bola ini berupa gerakan-gerakan yang ditemui atau dilakukan dalam permainan sepakbola. Latihan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas fisik seperti kecepatan, daya ledak, daya tahan, kelentukan dan kelincahan seusai dengan permainan.
b) Latihan fisik khusus dengan bola yaitu merupakan bentuk latihan perpaduan antara latihan teknik dan latihan fisik. Hal ini maksudnya, kemampuan fisik pemain dapat ditingkatkan dengan menggunakan atau memainkan bola. Sebagai contoh : untuk melatih kecepatan dengan bola berarti menggiring bola dengan cepat. Namun untuk menggiring bola dengan cepat, seorang pemain sepakbola harus mahir menggiring bola. Berdasarkan pendapat tersebut menunjukkan bahwa, kemampuan fisik yang dibutuhkan dalam permainan sepakbola yaitu, kemampuan fisik secara umum dan kemampuan fisik secara khusus yang berkaitan dengan permainan sepakbola. Namun demikian latihan fisik secara umum sangat menunjang untuk latihan fisik secara khusus dalam permainan sepakbola. Komponen-komponen kondisi fisik secara umum menurut Depdiknas (2002: 108) yaitu : “Kekuatan (strength), kecepatan (speed), daya tahan (endurance), kelentukan (flexibility), koordinasi (coordination), kelincahan, keseimbangan dan power”. Komponen-komponen kondisi fisik tersebut sangat penting dalam permainan sepak bola. Untuk meningkatkan komponen-komponen kondisi fisik tersebut harus dilakukan latihan dengan baik dan benar. Untuk lebih jelasnya komponen-komponen kondisi fisik tersebut diuraikan secara singkat sebagai berikut :
1) Kekuatan (Strenght)
 Kekuatan merupakan basic dari kemampuan fisik secara keseluruhan. Baik tidaknya kemampuan fisik seseorang dapat dipengaruhi oleh kekuatan yang dimiliki. Berkaitan dengan kekuatan, Sudjarwo (1993: 25) menyatakan, “Kekuatan adalah kemampuan otot-otot atau kelompok otot untuk mengatasi suatu beban atau tahanan dalam menjalankan aktifitas”. Kekuatan otot berperan penting untuk penampilan fisik seseorang. Untuk mencapai kekuatan dipengaruhi oleh beberapa factor. Suharno HP. (1993: 39-40) menyatakan factor-faktor penentu baik tidaknya kekuatan yaitu :
1)      Besar kecilnya potongan melintang (potongan morphologis yang tergantung pada proses hipertropi otot).
2)      Jumlah fibril otot yang turut bekerja dalam melawan beban, makin banyak fibril otot yang bekerja berarti kekuatan bertambah besar.
3)      Tergantung besar kecilnya rangka tubuh, makin besar skelet makin besar kekuatan.
4)      Innervasi otot baik pusat maupun perifeer.
5)      Keadaan zat kimia dalam otot (glycogen, ATP).
6)      Keadaan tonus otot saat istirahat, tonus makin rendah (rilex) berarti kekuatan otot tersebut saat bekerja semakin besar.
7)      Unsur dan jenis kelamin juga menentukan baik tidaknya kekuatan otot.
2) Kecepatan (Speed)
     Kecepatan merupakan kualitas kondisional yang memungkinkan seseorang olahragawan untuk bereaks secara cepat bila diransang dan untuk menampilkan atau melakukan gerakan secepat mungkin. Berkaitan dengan kecepatan, KONI (1993: 31) berpendapat, “ Kecepatan adalah kemampuan untuk melakukan gerakan-gerakan yang sejenis secara berturut-turut dalam waktu yang sesingkat-singkatnya”. Di sisi lain, factor pendukung kecepatan harus dalam kondisi baik. Faktor-faktor penentu kecepatan menurut Suharno HP. (1993: 48) yaitu :
1)   Macam fibril otot yang dibawa sejak lahir (pembawaan), fibril berwarna putih (phasic) baik untuk gerak yang cepat.
2)   Pengaturan nervous system.
3)   Kekuatan otot.
4)   Kemampuan elastisitas dan relaksasi suatu otot.
5)   Kemauan dan disiplin individu atlet.
3) Daya Tahan (Endurance)
     Daya tahan merupakan kemampuan seseorang untuk melakukan kerja dalam waktu yang relative lama. Berkaitan dengan daya tahan Ismaryati (2006: 118) menyatakan, “Daya tahan adalah kemampuan otot untuk melakukan suatu kerja secara terus menerus dalam waktu yang relative lama dengan beban tertentu. Untuk mencapai daya tahan yang baik harus dilakukan latihan. Ciri-ciri latihan daya tahan menurut Suharno HP. (1993: 4) yaitu :
1)   Bentuk lari jarak jauh (gerak cyclic) dan bentuk gerakan acyclic yang terus menerus dalam waktu tertentu minimal 20 menit atau 30 menit.
2)   Ada stress terhadap kerja jantung, paru-paru, otot dan syaraf yang bersifat lama. Khusus untuk meningkatkan daya tahan aerobic perlu dilatih gerkaan tanpa mengambil nafas, sehingga cadangan zat kimia dalam otot (ATP dan alkali reserve meningkat).
3)   Metode yang digunakan : constant training, cross country, farlek, interval training, circuit training.
     Hal terpenting dan harus diperhatikan dalam latihan daya tahan yaitu adanya konsumsi oksigen (O2). Namun demikian, daya tahan akan meningkat dengan baik jika factor-faktor pendukungnya juga baik. Menurut Suharno HP. (1993: 43) factor-faktor penentu daya tahan anatara lain :
1)   Jenis fibril otot, fibril otot merah/tonic cocok untuk kerja daya tahan karena banyak mengandung myohaemoglobin.
2)   Kualitas pernapasan dan peredaran darah (kapasitas vital, denyut pools per menit, vasodilatasi).
3)   Proses metabolism dalam otot dan kerja hormone.
4)   Pengaturan sistem syaraf, baik pusat maupun perifer (syaraf simpatis dan para parasimpatis)
5)   Kekuatan maksimal, daya ledak dan power endurance.
6)   Koordinasi gerakan otot-otot, irama gerak dan pernapasan.
7)   Susunan kimia dalam otot (glycogen, ATP dan alkali reserve).
8)   Umur kalender dan jenis kelamin.
4)  Kelentukan
     Kelentukan adalah kualitas persendian beserta otot-otot di sekitarnya dalam melakukan gerak secara maksimal tapa menimbulkan gangguan pada bagian-bagian tersebut. Berkaitan dengan kelentukan Rusli Lutan dkk. (1992: 114) menyatakan, “Kelentukan adalah kemampuan seseorang untuk dapat melakukan gerak dengan ruang gerak seluas-luasnya dalam persediannya”. Untuk memperoleh kelentukan yang baik harus dilakukan latihan yang baik dan benar. Metode latihan kelentukan menurut Depdiknas (2002: 118) sebagai berikut :
1)   Dimulai dari kelentukan umum.
2)   Kelentukan-kelentukan khusus suatu cabang olahraga harus dilatih dan dicapai dengan amplitude gerakan seoptimal mungkin Karena diperlukan untuk pertandingan dan peningkatan prestasi.
3)   Lakukan ke semua arah secara optimal sesuai dengan fungsi dan kemampuannya.
4)   Latihan-latihan kelentukan harus diberikan sebelum dan sesudah latihan kekuatan dan latihan kecepatan guna menghindari kekakuan otot dan membantu pemulihan.
5)   Program pengembangan kelentukan perlu juga dikombinasikan dengan latihan/kekuatan karena tanpa kekuatan amplitude gerakan yang benar tidak dapat dicapai. Latihan secara baik dan teratur berperan penting untuk meningkatkan kelentukan.
Menurut Suharno HP. (1993: 53) factor-faktor penentu kelentukan adalah :
1)   Elastibilitas dari otot, ligamentum, tendo dan capsula.
2)   Luas sempitnya ruang gerak sendi (ROM).
3)   Tonus otot, tendo, liganentum dan kapsula.
4)   Tergantung derajat panas di luar (temperature).
5)   Unsur kejiwaan, jemu, muram, takut, senang, semangat.
6)   Kualitas tulang-tulang yang membentuk persendian.
7)   Faktor umur dan jenis kelamin.
5)      Koordinasi
          Koordinasi bukan merupakan kemampuan fisik tunggal, akan tetapi tersusun dari dan saling berinteraksi denga kualitas-kualitas fisik yang lain. Bompa dalam Harsono (1988: 219) menyatakan “Koordinasi sangat erat hubungannya dengan kecepatan, kekuatan, daya than dan fleksibilitas. Koordinasi merupakan kemampuan seseorang mengintegrasikan bermacam-macam gerakan tunggal secara efektif. Koordinasi menyatakan hubungan yang harmonis dari berbagai factor yang terjadi pada suatu gerakan. Kemampuan koordinasi merupakan unsure dasar yang baik dalam menyelesaikan tugas dalam kehidupan sehari-hari. Bentuk-bentuk latihan koordinasi menurut Suharno HP. (1993: 12) sebagai berikut :
1)      Pelajari koordinasi gerakan yang baru dan beraneka ragam dengan tujuan untuk menguasai keterampilan-keterampilan yang kompleks.
2)      Pelajari keterampilan-keterampilan gerakan yang harus secara bervariasi. Gerakan-gerakan yang terautomatis sebaiknya dikonfirmasi, karena gerakan tersebut menghambat perkembangan koordinasi.
3)      Latihan-latihan untuk mengembangkan koordinasi harus menunjukkan satu tingkat kesulitan tertentu dalam arti koordinasi motorik.
4)      Pengembangan koordinasi yang lebih baik pada usia anak-anak dan remaja yang merupakan dasar untuk mempelajari keterampilan-keterampilan yang baru dan kompleks.
5)      Latihan-latihan yang bertujuan untuk memperbaiki kemampuan koordinasi sebaiknya pada awal suatu unit (sesi) latihan dimana volume latihannya tidak begitu besar dan sebaiknya dilakukan dengan frekuensi yang tinggi. Latihan secara berulang-ulang dengan bentuk latihan yang benar akan meningkatkan koordinasi menjadi lebih baik. Suharno HP. (1993: 62) menyatakan, dalam usaha untuk pencapaian prestasi, koordinasi dipengaruhi oleh :
1)   Pengaturan syaraf pusat dan tepi, hal ini berdasarkan pembawaan atlet dan hasil latihan.
2)   Tergantung tonus dan elastibilitas dari otot yang melakukan gerakan.
3)   Baik dan tidaknya keseimbangan, kelincahan, dan kelentukan atlet.
4)   Baik dan tidaknya koordinasi kerja syaraf, otot dan indera.
6)           Kelincahan
              Kelincahan merupakan salah satu komponen kesegaran motorik yang sangat diperlukan untuk semua aktifitas yang membutuhkan kecepatan perubahan posisi tubuh dan bagian-bagiannya. Menurut Iskandar Z. Adisapoetra, dkk. (1999: 6) bahwa, “Kelincahan adalah kemampuan untuk mengubah arah atau posisi tubuh dengan cepat yang dilakukan bersama-sama dengan gerakan lainnya”. Kelincahan tidak hanya diperlukan dalam olahraga tetapi juga situasi kerja dan kegiatan rekreasi. Ciri-ciri untuk melatih kelincahan menurut Suharno HP.(1993: 8) yaitu :
1)      Bentuk-bentuk latihan harus ada gerakan mengubah posisi dan arah badan dengan kecepatan tinggi.
2)      Rangsangan terhadap pusat syaraf sangat menentukan berhasil tidaknya suatu latihan kelincahan karena koordinasi sangat urgen bagi unsure kelincahan.
3)      Adanya rintangan-rintangan untuk bergerak dan mempersulit kondisi alat, lapangan dan sebagainya.
4)      Adanya pedoman waktu yang pasti dalam latihan. Kelincahan akan meningkat secara optimal jika ditunjang factor yang mendukung. Menurut Suharno HP. (1993: 51) factor-faktor yang mempengaruhi kelincahan antara lain :
1)      Kecepatan reaksi dan kecepatan gerakan.
2)      Kemampuan berorientasi terhadap problem yang dihadapi/kemampuan berantisipasi.
3)      Kemampuan mengatur keseimbangan.
4)      Tergantung kelentukan sendi-sendi.
5)      Kemampuan mengerem gerakan-gerakan motorik.
7)      Keseimbangan
          Keseimbangan merupakan kemampuan untuk mempertahankan sistem neuromuscular dalam kondisi statis atau mengontrol sistem neuromuscular tersebut dalam suatu posisi atau sikap yang efisien selagi bergerak. Berkaitan dengan keseimbangan Suharno HP (1993: 12) menyatakan, “Keseimbangan adalah kemampuan atlet untuk mempertahankan keseimbangan badan berbagai keadaan tetap seimbang”. Sedangkan Ismaryati (2006:48) menyatakan, keseimbangan dibedakan menjadi dua yaitu :
1)             Keseimbangan statis adalah kemampuan mempertahankan keadaan seimbang dalam keadaan diam.
2)             Keseimbangan dinamis adalah kemampuan mempertahankan keadaan seimbang dalam keadaan bergerak, misalnya berjalan, berlari, melambung dan lain sebagainya. Kualitas keseimbangan dinamis bergantung pada mekanisme dalam saluran semisirkular, persepsi kinestik, tendon dan persendian, persepsi visual selama melakukan gerakan dan kemampuan koordinasi. Cara melatih keseimbangan menurut Suharno HP. (1993: 12) sebagai berikut :
1)   Gerakan dari yang mudah ke yang sukar dari gerak sederhana ke gerak kompleks.
2)   Mempersulit kondisi latihan, misalnya : memperkecil bidang tumpuan, bidan g tumpuan ditinggalkan, bidang tumpuan dibuat labil, memjamkan mata dan lain-lain.
3)   Pusat keseimbangan terletak di dalam rumah siput telinga (apparatus vestibularis). Oleh sebab itu pusingan badan dengan jari tangan sebagai pusat gerak yang terletak di tanah merupakan salah satu bentuk latihan keseimbangan yang efektif. Keseimbangan akan berkembang secara maksimal jika dilakukan latihan dengan baik dan teratur. Sedangkan Suharno HP. (1993: 67) menyatakan factor-faktor penentu keseimbangan yaitu :
1)   Tinggi rendahnya titik berat badan.
2)   Luas sempitnya bidang tumpuan.
3)   Berat badan atlet.
4)   Tergantung dari datangnya gaya.
5)   Baik tidaknya bidang tumpuan.
6)   Labil tidaknya bidang tumpuan.
7)   Memejamkan mata atau tidak.
8)   Tinggi rendahnya bidang tumpuan.
8)      Power
          Power merupakan unsur kondisi fisik yang dibutuhkan pada hamper semua cabang olahraga. Power menyangkut kekuatan dan kecepatan kontraksi otot yang dinamis dan eksplosif serta melibatkan pengeluaran kekuatan otot yang maksimal dalam waktu yang singkat. Suharno HP. (1993: 95) menyatakan, “Eksplosive power adalah kemampuan otot atlet untuk mengatasi tahanan beban dengan kekuatan dan kecepatan maksimal dalam satu gerakan utuh”. Untuk memperoleh power yang baik harus dilakukan latihan yang baik dan tepat.
Ciri-ciri latihan power menurut Suharno HP. (1993: 9) yaitu :
1)      Melawan beban berat badan sendiri atau tambahan beban luar relatif ringan.
2)      Gerakan latihan dinamis dan cepat.
3)      Gerakan merupakan satu gerak yang utuh, singkat dan harmonis.
4)      Bentuk bahan latihan cyclic dan acyclic.
5)      Intensitas sub maksimal atau maksimal.
     Latihan untuk meningkatkan power pada prinsipnya menggunakan beban yang pelaksanaannya dilakukan dengan dinamis dan cepat. Suharno HP. (1993: 59-60) menyatakan factor penentu baik tidaknya power adalah :
1)      Banyak sedikitnya macam fibril otot putih dari atlet.
2)      Kekuatan dan kecepatan otot atlet
          Ingat rumus P = F x V
          P = Power, F = Force, V = Velocity.
1)      Waktu rangsangan maksimal 34 detik, misalnya waktu rangsangan hanya 15 detik, power akan lebih baik dibandingkan dengan waktu rangsangan selama 34 detik.
2)      Koordinasi gerakan yang harmonis antara kekuatan dan kecepatan.
3)      Tergantung banyak sedikitnya zat kimia dalam otot (ATP).
9)      Ketepatan
          Ketepatan pada dasarnya kemampuan seseorang untuk mengenai sasaran dengan tepat. Berkaitan dengan ketepatan Iskandar Z. Sapoetra dkk, (1999: 7) menyatakan, “Ketepatan (accuracy) adalah kemampuan seseorang untuk mengarahkan sesuatu sesuai dengan sasaran yang dikehendaki”. Sedangkan Suharno HP. (1993: 64) menyatakan, cara melatih ketepatan sebagai berikut :
1)      Frekuensi gerakan diulang-ulang sebanyak mungkin agar gerak menjadi otomatis benar.
2)      Jarak sasaran dimulai dari dekat kemudian semakin dijauhkan.
3)      Gerakan dari lambat ke cepat, setiap gerak harus ada kecermatan dan ketelitian.
4)      Sering diadakan pertandingan untuk evaluasi hasil latihan ketepatan. Ketepatan merupakan komponen kondisi fisik yang berperan penting dalam cabang olahraga permainan sepakbola. Ketepatan akan meningkat secara maksimal jika ditunjang factor pendukungnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi ketepatan menurut Suharno HP. (1993: 64) yaitu :
1)      Koordinasi baik akan menjamin baiknya keterampilan (Accuracy).
2)      Tergantung pada besar dan kecilnya target.
3)      Ketajaman indera.
4)      Jauh dekatnya sasaran.
5)      Benar dan tidaknya penguasaan teknik.
6)      Cepat dan lambatnya gerakan.
7)      Perasaan gerak dan ketelitian gerak atlet.
8)      Kuat lemahnya pelaksanaan gerak untuk mengarahkan ke target.
10)    Reaksi
          Reaksi pada prinsipnya kemampuan seseorang bergerak dengan cepat untuk menanggapi rangsangan yang diterima M. Sajoto (1995: 10) menyatakan, “Reaksi merupakan kemampuan seseorang bertindak secepat-cepatnya dalam menanggapi rangsangan-rangsangan yang dating lewat indera, syaraf atau feeling lainnya. Ciri-ciri latihan reaksi menurut Suharno HP. (1993: 49-50) yaitu :
1)      Dengan permainan hijau hitam. Aba-aba mula-mula lambat makin lama makin cepat.
2)      Mereaksi aba-aba/kode-kode lebih dari dua macam  dari pelatih dan harus dikerjakan secepat-cepatnya.
3)      Dalam waktu tertentu dapat mereaksi bola yang dilempar sebanyak-banyaknya dari pelatih.
4)      Bertanding benar, start dengan pistol, bermain dengan bola. Kemampuan seseorang untuk merespon terhadap suatu rangsangan yang diterimanya dipengaruhi oleh banyak factor. Suharno HP. (1993: 47) menyatakan, “Faktor-faktor penentu waktu reaksi antara lain: (1) tergantung pada iritabilitas susunan syaraf, (2) daya orientasi situasi yang dihadapi atlet, (3) ketajaman panca indera dalam menerima rangsangan dan, (4) kecepatan gerak dan daya ledak atlet”.
5)      Teknik Heading Bola
          a.  Manfaat Dalam Permainan
          Heading bola merupakan salah satu dari beberapa teknik yang ada pada permainan sepak bola, yang harus memenuhi ketentuan peraturan permainan untuk dimanfaatkan dalam bermain sepak bola. Dalam situasi bermain sepak bola, bola tidak selamanya hanya dimainkan dengan kaki tetapi juga menggunakan kepala apabila arah datangnya bola di atas jangkauan kaki. Bola disundul dengan menggunakan kepala dengan tujuan untuk :
          -    Memasukkan bola ke gawang.
          Bola yang datangnya melambung tinggi melalui tendangan sudut dimanfaatkan langsung untuk memasukkan bola ke gawang dengan sundulan. Apabila bukan melalui sundulan memberikan kemungkinan untuk memasukkan bola ke gawang.
     -    Mematahkan serangan lawan.
          Bola yang di umpankan bagi penyerang lawan dimana bola itu arahnya melambung tinggi, maka permainan bertahan berusaha merebut bola dengan secepat mungkin apakah dengan melompat atau tidak segera heading bola. Apabila menunggu untuk bola dimainkan dengan kaki agar lambat sehingga memberikan peluang bagi lawan untuk merebutnya.
     -    Mengoper atau member umpan.
          Dalam situasi permainan yang membutuhkan strategi permainan cepat, maka bola-bola yang datannya melambung tinggi segera dilanjutkan pada teman secara praktis hanya melalui sundulan.
     -    Mengontrol bola
          Tidak semua bola yang datang melambung tinggi langsung disundul, misalnya dalam posisi bebas tidak terjaga oleh lawan. Maka bola yang datangnya melambung tinggi perlu terlebih dahulu dikontrol dengan menggunakan kepala.
       Penjelasan tentang manfaat heading bola di atas, sejalan dengan pendapat Ilyas Haddade dan Ismail Tolla (1992: 500 sebagai berikut :
Penggunaan atau manfaat dalam melakukan heading bola :
1. Mencetak bola.
2. Meneruskan bola.
3. Untuk member umpan.
4. Untuk mematahkan serangan lawan (clearing) bagi pemain pertahanan.
5. Untuk mengontrol bola.
b.       Analisis Pelaksanaan Heading Bola.
          Gerakan menunjul atau heading bola dapat dilakukan dalam berbagai posisi, seperti : posisi berdiri, posisi sambil berlari dan posisi melompat.
          Heading dalam posisi berdiri dilakukan apabila arah datangnya bola tidak melambung tinggi tetapi arah bola tepat pada kepala. Selain dari itu arah datangnya bola melambung tinggi dan pemain tetap menunggu sampai turunya bola tepat di kepala untuk di sundul. Dengan posisi ini pemain dapat heading bola ke atas, ke depan, ke belakang dan ke samping
          Heading bola dalam posisi berdiri dilakukan apabila bola yang datang melambung tinggi atau mendatar searah kepala dan jauh dari jangkauan. Pemain harus berlari menuju arah bola dan melakukan heading atau sundulan. Heading bola dalam posisi berlari, pemain dapat menghentikan bola pada arah yang sama seperti posisi berdiri.
          Heading bola sambil melompat dilakukan apabila bola yang datang melambung tinggi dan pemain harus cepat merebut bola tersebut sebelum direbut oleh lawan. Selain dari itu bola yang datangnya melambung tinggi di depan gawang, maka pemain penyerang maupun pertahanan merebut bola tersebut dengan  heading sambil melompat. Dapat juga heading bola sambil berlari dan melompat dengan kemungkinan pada saat berlari menuju arah bola sambil melompat dan heading.
          Pelaksanaan teknik heading bola bila ditinjau dari teknik pelaksanaan umum atau prinsip utama yang harus dilakukan atau dilaksanakan serta dikuasai yaitu :
a)       Kaki sejajar dengan berat badan pada kedua kaki.
Prinsip ini terjadi bila heading bola dalam posisi berdiri, diperoleh tingkat stabilitiasnya yang baik dan memudahkan untuk heading bola secara tepat. Bagi pemain tingkat pemula hal ini perlu ditekankan karena dasar untuk heading bola dalam permainan sepak bola.
b)      Bidang perkenaan bola
          Perkenaan bola dengan kepala yaitu dahi, hal ini disebabkan karena dahi merupakan bagian dari kepala yang permukaannya luas. Kemungkinan gerak dari kepala pada arah samping dan depan untuk mengarahkan bola lebih memungkinkan bila bidang perkenaan dahi. Dapat juga terjadi bidang perkenaan seperti dibelakang kepala yang tujuannya yaitu arah bola kebelakang.
c)       Arah bola
          Heading bola bertujuan untuk mengarahkan bola, arah bola meliputi ke depan, ke samping kiri atau kanan dan ke belakang. Jarak gerak bola pada arah tersebut berbeda sesuai tuntutan. Sehubungan dengan itu, peranan pergerakan seluruh badan mulai dari kepala yang berporos pada sendi leher (articulation socipitialis) Sampai pada sendi pinggul (articulation coxae) Termasuk perut (rectus abdominialis).
1.       Heading posisi ditempat.
Pemain mengambil poisis kuda-kuda lutut agak bengkok kedua lengan dengan keras, direntangkan kedepan untuk memukul bola dengan keras, bahu bersama dengan lengan disentakkan kebelakang dengan arah kepala pada saat perkenaan dengan bola.
2.       Heading kesamping
Dilakukan seperti posisi kedepan perkenaan bola dengan dahi, hanya badan bagian atas diputar kearah bola.
3.       Heading kebelakang
Ketika bola datang pemain agak merendahkan diri, begitu bola lewat, kepala diangkat kembali dengan sentakan kebelakang untuk mengikuti arah datangnya bola.

4.       Heading lari kebola
Persiapan gerakan dari badan bagian atas dibuat dengan langkah terakhir sebelum menyentuk bola.
5.       Heading melompat ke bola
Heading dengan melompat dapat dilakukan dari posisi start yang berbeda. Umumnya melompat dari posisi berdiri dilakukan dengan kedua kaki (dalam keadaan lari dengan satu kaki) tolakan dibantu dengan mengangkat dan mengayun tungkai bawah serta lengan pada titik yang tertinggi dari pada lompat bola heading.
c.       Metode Pembelajaran Heading Bola
          Menurut Lutan (1988: 397) mendefenisikan metode sebagai suatu cara untuk melangsungkan proses latihan sehingga tujuan dapat tercapai. Hal senada dikemukakan  oleh Winarno Surakhmad (1994: 96) bahwa metode adalah cara yang didalam fungsinya merupakan alat mencapai tujuan. Dalam kamus bahasa Indonesia (1996: 652) metode latihan diartikan sebagai cara kerja yang bersistem guna memudahkan suatu kegiatan dalam rangka mencapai suatu tujuan yang telah ditujuan tentukan.
          Teknik dasar heading bola dengan prinsip pelaksanaan untuk berbagai posisi dapat dikuasi bila materi latihan yang diberikan dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Oleh Karena bidang perkenaan bola yang disundul adalah bagian kepala, seluruh tujuan heading bola dapat dicapai apabila pemain menguasai bola dengan kepala. Materi latihan yang diberikan tidak lepas dari prinsip pelaksaan, utamanya mulai dari gerakan sederhana sampai pada gerakan yang kompleks, serta posisi dalam menyundul bola.
          Guru hendaknya mempunyai kreasi dalam menciptakan bentuk-bentuk pembelajaran yang senantiasa mengacu pada prinsip dan tujuan. Beberapa contoh materi pembelajaran heading bola yang dapat dipilih untuk digunakan. Materi latihan heading atau heading bola diklasifikasikan atas materi dasar heading bola, heading bola pada tugas tertentu, heading dengan melompat pada rintangan dan heading bola ke gawang.
a)       Materi dasar heading bola
          Materi dasar heading bola yaitu penguasaan bola dengan kepala yang dilakukan dalam bentuk :
          - Beberapa kali sentuhan bola dengan kepala
          - Dari posisi tegak, jongkok dan berdiri kembali
          - Sambil bergerak berpasangan
- Heading bola secara individu atau berpasangan dilakukan dalam bentuk perlombaan
b)      Materi heading bola untuk tugas tertentu
          Untuk meningkatkan tingkat kesukaran, maka materi heading bola dilakukan dengan tugas-tugas tertentu. Contoh-contoh latihan antara lain :
-        Latihan  mengheading disertai dengan lari dengan melompat
-        Latihan mengheading bola secara berkawan dilakukan secara berkawan sampai dengan tiga orang
c)       Heading bola dengan melompat dan adanya rintangan
            Tingkat kesukaran heading bola ditingkatkan dengan adanya rintangan dan dilakukan dalam keadaan melompat. Bentuk-bentuk latihan antara lain :
-           Heading bola sambil melompat
-           Heading bla dengan melompat dan berpasangan
-           Heading bola sambil melompat dan berpasangan serta diarahkan pada sasaran.


DAFTAR PUSTAKA
Arma Abdullah , 1981 , Unsur Untuk Dapat Bermain Bola Denga Baik, Kemampuan Beltasar Tariangan , 2001 , Daya Tarik Permainan Sepak Bola
Hadade, Ilyas, Tolaismail, 1991. Penuntun mengajar dan melatih sepak bola. Diklat FPOK IKIP Ujung Pandang
Harsono, 1988. Coaching dan aspek aspek psikologi dalam sepak bola
http://rhama16.blogspot.com/2009/03/teknik-teknik-dasar-permainan-sepakbola.hkanga pendidikan.html
Joseph A. Lauxbacher ,1997, Pengertian Sepak Bola Soekamti , 1995, Tujuan Kesebelasan, Teknik  
        dasar sepak bola, Unsur Teknik Tanpa Bola.
Remy Muchtar , 1992 , Pengertian Teknik Sepak Bola
Sudirman, 2010. Upaya meningkatkan kemampuan heading bola dalam permainan sepak melalui 
          metode berpasangan pada siswa kelas X.2 di SMKN 2 Makassar.Skripsi. FIK UNM
Suharjo, Untung, 1984. Pendidikan dan olahraga dan kesehatan. Bandung  : Pioneer Jaya Sugeng, Bandung. 2004. Sepak bola, Taktik dan teknik bermain. Jakarta : Raja Gafindo Persada Suharno HP.1993. Ilmu coaching umum. Yogyakarta : Yayasan Sekolah Tinggi Olahraga Yogyakarta
Wibawa. 2004. Sepakbola. Jakarta : Raja Grfindo Pesadi

Featured Post

CEDERA PADA OLAHRAGA TENIS LAPANGAN

Sport_Medicine_Online Teknik, Sarana dan Perlengkapan Tenis Lapangan A.        Latar belakang Olahraga tenis merupakan salah satu ol...