Saturday, February 17, 2018

ADAPTASI METABOLIK PADA LATIHAN

Sport_Medicine_Online

A.                                 PENDAHULUAN
Latihan menimbulkan terjadinya perubahan energi kimia menjadi energi mekanik. Oleh karena itu dalam latihan harus mengetahui persediaan energi kimia, kapan energi kimia tersebut diperlukan, bagaimana proses penyediaanya dan dimana energi tersebut berasal dan disimpan, yang semuanya itu menyangkut sistem metabolisme energi dalam tubuh.

Energi berasal dari makanan yang mengandung  karbohidrat, lemak dan protein. Kalau kita makan, maka tujuan terpenting adalah untuk pertumbuhan, sebagai sumber energi, dan mengganti sel yang rusak selain untuk menghilangkan lapar. Pada dasarnya semua energi berasal dari matahari, dimana energi dari matahari oleh tumbuhan hijau diubah menjadi energi kimia.

A.                               METABOLISME
Metabolisme adalah jumlah seluruh reaksi kimia dan fisik serta pengubahan energi dalam tubuh yang menopang dan mempertahankan kehidupan (Sloane, 2004). Metabolisme dalam tubuh memungkinkan sel melangsungkan kehidupannya (Gayton, 1997). Metabolisme dapat dibagi menjadi 2 katagori, yaitu anabolisme dan katabolisme.
Anabolisme adalah merupakan proses sistesis molekul komplek dari molekul sederhana, dan katabolisme adalah pemecahan atau penguraian  molekul komplek besar menjadi molekul sederhana yang lebih kecil (Pocock, 2004).
Anabolisme meliputi reaksi  kimia untuk membentuk kompleks molekul yang diperlukan untuk pertumbuhan dan mempertahankan kehidupan yang disentesis dari zat yang lebih mudah disertai dengan penggunaan energi. Katabolisme meliputi reaksi kimia molekul menjadi molekul yang berukuran kecil disertai dengan pelepasan energi. Reaksi Anabolisme dan katabolisme berlangsung dalam sel tubuh secara bersamaan dan berkelanjutan. (Sloane, 2004).
Reaksi anabolik memerlukan masukan energi dalam bentuk ATP. Reakasi-reaksi tersebut menghasilkan (1) Pembentukan bahan yang diperlukan sel , misalnya protein struktural sel atau produk sekretorik, atau (2) Simpanan, misalnya glikogen atau lemak dari kelebihan zat gizi yang tidak segera dipergunakan untuk energi atau bahan pembangun sel. Kataboliisme di pihak lain, mencakup 2 tingkat penguraian : (1) hidrolisis makro molekul organik sel menjadi subunit yang lebih kecil, seperti penguraian glikogen menjadi glukosa, (2) oksidasi subunit kecil, untuk menghasilkan energi dalam bentuk ATP (Sherwood, 2001).

A.                                ENERGI
Energi diperlukan untuk proses fisiologis yang berlangsung dalam sel tubuh. Proses ini meliputi kontraksi otot, pembentukan dan penghantaran impuls syaraf, sekresi kelenjar, produksi panas untuk mempertahankan suhu, mekanisme transport aktif dan berbagai reaksi sintesis dan degradasi (Sloane, 2004).
Sumber energi tubuh berasal dari karbohidrat, lemak dan protein. Sumber energi ini dipakai oleh sel untuk membentuk sejumlah besar ATP dan ATP dipakai sebagai sumber energi untuk berbagai fungsi sel (Gayton dan Hall, 2004).
Ada 6 bentuk energi : (1) Kimia, (2) mekanik, (3) panas, (4) cahaya (5) elektrik, dan (6) inti. Setiap energi dapat diubah dalam bentuk energi yang lain. Sebagai contoh saat aktivitas atau latihan, terjadi perubahan energi dari bentuk energi kimia menjadi energi mekanik (Fox, 1993).
B.               
                                        ADENOSIN TRI PHOSPHATE (ATP)
Kita harus makan untuk dapat menyediakan energi yang diperlukan tubuh. Energi pada pemecahan bahan makanan tidak dapat langsung digunakan, tetapi energi tersebut harus diubah menjadi energi kimia berbentuk ATP (Sloane, 2004).
ATP adalah senyawa fosfat yang berenergi tinggi yang menyimpan energi untuk tubuh. ATP terbentuk dari nukleitida adenosin ditambah dengan gugus fosfat dalam ikatan yang berenergi tinggi. Hidrolisis ATP melepaskan satu fosfat menjadi ADP dan melepaskan energi. Pelepasan fosfat kemudian akan menjadi AMP melepaskan banyak energi. Energi yang dilepas dari katabolisme makanan dipakai oleh ADP untuk membentuk ATP sebagai simpanan energi. Sistem ATP-ADP adalah cara utama pemindahan energi dalam sel (Sloane, 2004).
ATP merupakan sumber energi untuk proses biologis berlangsung secara mendaur ulang. ATP terbentuk dari ADP dan Pi melalui proses fosforilasi dan oksidasi moleku penghasil energi. Selanjutnya ATP yang terbentuk dihidrolisis menjadi ADP dan Pi sekaligus melepaskan energi yang diperlukan oleh proses biologis tersebut. Demikian seterusnya terjadi daur ulang ATP-ADP secara terus menerus. ATP juga dapat dibentuk 2 molekul ADP, yang menghasilkan ATP dan AMP (Patellongi, dkk, 2000).
Bila satu senyawa fosfat dari ATP dilepaskan, maka akan keluar energi sebesar 7-12 Kcal. Energi dari pemecahan ATP inilah yang digunakan untuk energi untuk kontraksi otot, sistesa protein, tarnsport aktif ion, dan untuk berbagai metabolisme.

C.                SUMBER ATP
Terdapat 3 proses yang dapat menghasilkan ATP : (1) ATP-PC atau sistem phospatagen. Pada sistem ini energi di sintesis dari ATP yang berasal dari Posfokreatin (PC). (2) Aanarobik Glikolisis, atau sistem asam laktat, menyediakan ATP dari degradasi parsial dari glikogen atau glukosa. (3) Sistem oksigen dari proses oksidasi karbohidrat dan beta oksidasi dari asam lemak dan protein. Pada sistem oksigen mengalami reaksi oksidasi melalui siklus Krebs.  Energi yang berasal dari pemecahan makanan dan energi pemecahan PC digunakan untuk mensitesis ATP dari ADP ( Fox, 1993 ).
D.               
M                 METABOLISME AEROBIK DAN ANAEROBIK
Metabolisme aerobik adalah metabolisme energi yang dapat dihasilkan dari makanan dengan metabolisme oksidatif, yaitu dengan menggunakan oksigen. Metabolisme anaerobik bila energi dihasilkan tanpa disertai dengan pemakaian oksigen. Karbohidrat merupakan sumber makanan bermakna yang dapat dipakai sebagai sumber energi tampa menggunakan oksigen. Pelepasan energi terjadi selama proses glikolitik dimana glikogen dipecah menjadi asam piruvat (Gayton dan Hall, 2004).
Jika energi ATP yang diperlukan untuk aktivitas seluler lebih besar daripada yang dihasilkan oleh metabolisme oksidatif, cadangan fosfokreatin yang pertama digunakan dan kemudian diikuti dengan cepat oleh pemecahan glikogen anaerobik dan menghasilkan asam laktat.
Metabolisme oksidatif  tidak dapat menghasilkan energi yang sangat besar ke sel secepat proses anaerobik, tetapi sebaliknya pada penggunaan dengan kecepatan yang lebih lamban, secara kwantitatif proses oksidatif hampir tidak pernah ada habisnya (Gayton dan Hall, 2004).

E.                 SISTEM  METABOLISME  ENERGI PADA OTOT
Untuk memenuhi kebutuhan energi untuk kerja otot baik kontraksi maupun relaksasi, otot menyimpan sejumlah ATP dan mempunyai sistem dalam membentuk kembali ATP yang telah terpakai. Diantara sel yang lain, sel otot merupakan sel yang paling banyak menimbun ATP, walaupun jumlahnya sangat terbatas. 
ATP yang tertimbun dalam otot sekitar 4-6 milimol/kg otot. ATP tersebut hanya cukup untuk aktivitas cepat dan berat selama 3-8 detik. Oleh karena itu bila aktivitas terjadi lama perlu pembentukan ATP kembali. Proses pembentukan kembali ATP terjadi 3 cara, 2 proses terjadi secara anaerobik : (1) Sistem ATP-PC ( sistem fosfatagen ) dan (2) Sistem glikolisis anaerobik ( sistem asam laktat ), dan 1 proses terjadi secara aerobik, yaitu sistem aerobik dimana meliputi oksidasi karbohidratt dan lemak.

1.                  Sistem ATP-PC ( Sistem Fosfatagen )
Sistem fosfatagen adalah suatu sistem penyediaan energi ATP yang berasal dari kreatin fosfat (PC) di otot. Dengan enzim kreatin kinase, PC dipecah menjadi fosfat dan kreatin dan selanjunnya fosfat diikat dengan ADP menjadi ATP. Pada saat kontraksi ATP dipecah menjadi ADP dan fosfat  diikat kembali oleh kreatin menjadi kreatin fosfat (PC) (Fox, dkk., 1991).
Kurang lebih fosfokreatin 15–17 milimol  tertimbun dalam otot per kilo gram. Bila PC terurai akan dilepaskan energi, dan fosfat segera didonorkan untuk membentuk ATP dari ADP atau AMP. Reaksi ATP dan PC dalam sel berlangsung sangat cepat. Pada saat ATP digunakan, segera PC terurai dan membebaskan energi. Pada kondisi standart energi dilepaskan sebesar 8300 kalori permol PC dan kondisi reaktan dan suhu tubuh normal 13000 kalori, lebih besar energi dari hidrolisis ATP sebesar 12000 kalori (Patellongi dkk, 2000).
Kreatin fosfat  jumlahnya sangat sedikit, sehingga cepat habis. Tetapi merupakan sumber energi yang tercepat untuk membentuk ATP kembali. Oleh karena itu sistem energi ini dapat digunakan secara cepat yang diperlukan pada aktivitas yang memerlukan kecepatan (Fox, 1991).
Kecepatan penyedian energi ATP lewat sistem ATP-PC ini karena : (1) tidak bergantung pada reaksi kimia yang panjang, (2) Tidak tergantung pada transport oksigen dalam otot (tidak memerlukan oksigen), (3) ATP-PC tertimbun dalam mekanisme kontraksi otot (Fox, 1991).

2.                  Sistem Asam laktat (Sistem Glikolisis Anaerobik)
Glikolisis anaerobik memerlukan 12 macam reaksi kimiawi secara berurutan, sehingga pembentukan energi melalui sistem ini berjalan lebih lambat dari pada sistem ATP-PC yang hanya 2 reaksi saja. Jadi kontraksi otot yang dihasilkan oleh sistem energi ini berlangsung cepat, lebih lambat dari sistem ATP-PC. Adapaun ciri sistem glikolisis anaerobik adalah : (1) menyebabkan terbentuknya asam laktat yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan kelelahan. (2) Tidak memerlukan oksigen, (3) hanya menggunakan karbohidrat (glukosa atau glikogen otot), (4) memberikan energi untuk resintesis beberapa molekul saja.
Apabila glukosa masuk dalam sel, maka molekul glukosa tersebut dengan serangkaian reaksi kimia diproses menjadi energi, yang disebut peristiwa glikolisis. Energi yang dikeluarkan digunakan untuk membentuk ATP kembali dan menghasilkan 3 ATP. Reaksi ini tidak efisien, karena dari 1 mol (180 gr) glikogen hanya membentuk 3 ATP sedangkan bila dengan pertolongan oksigen akan menghasilkan 39 mole ATP.  Asam laktat yang terbentuk dari glikolisis akan menurunkan pH otot dan darah. Perubahan pH akan menghambat kerja enzim atau reaksi kimia dala sel terutama dalam otot sendiri, sehingga menyebabkan kontraksi otot bertambah lemah dan menyebabkan kelelahan (Fox, 1991)
Sistem glikolisis anaerobik ini diperlukan pada aktivitas fisik yang berlangsung cepat dan berlangsung 1 s/d 3 atau 4 menit. Daya maksimal 1,6 mol ATP permenit, dan kapasitas maksimalnya 1,2 mol ATP.

3.                  Sistem Aerobik
Sistem aerobik merupakan sistem pembentukan kembali ATP melalui fosforilasi oksidatif di metokondria. Pengikatan kembali Pi dengan menggunakan energi  yang dihasilkan oleh oksidasi subtrat dari makanan penghasil energi (karbohidrat, lemak dan protein) (Patellongi dkk, 2000).
Untuk aktivitas ketahanan yang tidak memerlukan gerakan cepat, pembentukan ATP terjadi dengan metabolisme aerobik. Bila cukup oksigen 1 mole glikogen dipecah sempurna menjadi CO2, H2O dan sejumlah energi sebesar 39 mole ATP.  Untuk reaksi tersebut diperlukan beratur-ratus reaksi kimia dengan beratus-ratus enzim.
Metabolisme aerobik ini meskipun terjadi di otot, tetapi letaknya agak jauh dengan mekanisme kontraktil. Oleh karena itu pengaruhnya juga lebih lambat dan tidak dapat digunakan secra cepat. Reaksi aerobik terjadi di metokondria yang terbagi menjadi : (1) glikolisis aerobik, (2) siklus kreb, (3) sistem transport elektron (Setiawan, 2002).
3.1       Glikolisis Aerobik
Seri perubahan permulaan, glikogen dipecah menjadi CO2 dan H2O sebagai glikolisis. Selama glikolisi aerobik,  1 gram glikogen dipecah menjadi 2 mol asam piruvat, dengan mengeluarkan energi untuk mesintesi kembali 3 mol ATP :
Glikogen ( C6H12O6) à 2 asam piruvat ( C3H4O3 ) + energi ( 2 ATP ) + 4 H
Energi + 3 ADP + 3 Pi à 3 ATP (Fox, 1991).

3.2       Siklus Kreb
Pemecahan glukosa berikutnya adalah memecah 2 asam piruvat dengan pertolongan koenzim A menjadi acetyl A, CO2 dan H (asam piruvat + coenzym A à Acetyl A + 2 CO2 + 4H). Selanjutnya acetyl koenzim A masuk dalam siklus Kreb (siklus asam sitrat atau asam trikarboksilat). Asam lemak aktif ini masuk ke siklus oksidasi yang dinamakan beta oksidasi menjadi acetyl coenzim A dan masuk dalam siklus Kreb. Banyaknya ATP yang dihasilkan tergantung dari jenis asam lemak (Fox, 1991).

Sistem transpor elektron
Kelanjutan pemecahan glikogen adalah terbentuknya H2O yang dihasilkan dari persenyawaan H+ yang terjadi dalam siklus Kreb dan oksigen yang kita hirup. Rangkaian reaksi sampai terjadi H2O disebut dengan sistem transport elektron dan reaksi ini terjadi di membran dalam metokondria. Waktu terjadi transport elektron di dalam rantai respirasi sejumlah energi dikeluarkan.  Ion H+ dan elektron yang dihasilkan dari siklus Kreb masuk ke sistem trasport elektron. Dalam sistem ini terjadi pembentukan H2O dari reaksi enzimatis antara ion H+ dan oksigen serta pembentukan ATP.
Tabel 1 dan 2 membandingkan 3 sistem pembentukan energi (Fox, 1991)

Tabel 1
Sistem Penyediaan Energi Dalam Pembentukan ATP

SISTEM
BAHAN BAKU
KEBUTUHAN O2
KECEPATAN

Anaerobik
     ATP-PC
     Asam Sitrat
Aerobik

Fosfokreatin
Glikogen
Glikogen, lemak, dan protein

Tidak
Tidak
ya


Tercepat
Cepat
Lambat

Tabel 2
Kapasitas Maksimal dan Power

SISTEM
MAXIMAL POWER ( mole ATP/menit )
MAXIMAL CAPACITY   ( ATP yang tersedia )

ATP-PC
Asam Sitrat
Aerobik


3,6
1,6
1,0

0,7
1,2
90,0


A.                METABOLISME AEROBIK DAN ANAEROBIK SELAMA ISTIRAHAT DAN AKTIVITAS FISIK (LATIHAN)

Terdapat 3 hal penting dalam metabolisme aerobik dan anaerobik yang harus diperhatikan selama istirahat dan latihan : (1) tipe makanan yang dimetabolisme, (2) peran relatif yang dimainkan oleh setiap sistem dan (3) adanya penumpukan asam laktat dalam darah (Fox, 1991).
Kita telah mengetahui bahwa makanan yang masuk dalam tubuh diubah dulu menjadi ATP sebagi sumber energi sel yang siap pakai. Jumlah ATP dalam tubuh terbatas, dan harus dibentuk kembali melalui 3 sistem yaitu sistem ATP-PC, asam laktat dan sistem aerobik. Pada gerakan yang sangat cepat ATP dibentuk dari sistem ATP-PC, gerakan cepat dari sistem asam laktat dan gerakan lambat dari sistem aerobik.

1.                  Penyediaan Energi Waktu Istirahat
Kondisi istirahat sumber energi 2/3 diperoleh dari lemak dan 1/3 dari karbohidrat (glikogen dan glukosa). Sistem transport oksigen dalam kondisi istirahat dapat mensuplai okigen pada setiap sel  dengan oksigen yang cukup, sehingga ATP secara adekuat dapat dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan saat istirahat. Oleh karena itu penyediaan energi saat istirahat terutama melalui sistem aerobik (Fox, 1991).
Meskipun hanya sistem aerobik pada kenyataannya dalam darah terdapat asam laktat yang konstan (10 mg/100 ml). Asam laktat yang terdapat dalam darah ini berasal dari metabolisme anaerobik sel darah merah yang tidak memiliki metokondria. Disamping itu juga  kerja enzyme lactic dehydroginase yang mengubah asam piruvat menjadi asam laktat. Enzim alactic dehidroginase ini berfungsi menjaga agar kadar asam lakta dalam darah tetap konstan (Fox, 1991).

2.                  Energi Waktu Latihan
Kontraksi otot tidak akan terjadi kontraksi tanpa energi dari ATP. Miosin salah satu protein kontraktil yang penting dalam serat otot, bekerja sebagai enzym yang memecah ATP menjadi ADP, sehingga melepaskan energi yang diperlukan dalam kontraksi otot. Saat keadaan normal hanya sejumlah kecil ATP yang dipecah untuk kontraksi, dan kecepatan pemakaian ATP dapat 150 X lebih cepat dari saat istirahat (Gayton dan Hall, 2004).
Latihan (olahraga) pada umumnya tidak murni menggunakan energi aerobik saja atau anaerobik saja tetapi biasanya terjadi campuran. Namun terdapat sistem energi predominan yang digunakan aerobik atau anaerobik.  Peran relatif (energi predominan) selama latihan tergantung : (1) jenis latihan, (2) kedaan latihan, (3) diet atlet (Fox, 1991).
Latihan  jangka pendek, yang dipertahankan sampai  2 menit, seperti lari 50 M s/d 800 M atau olahraga yang lain. Sumber energi adalah anaerobik predominan. Pada awal gerakan sumber energi melalui ATP PC selama dan kemudian melalui sistem asam laktat.
Latihan jangka panjang, yang kontinyu dalam waktu 5 menit atau lebih seperti lari maraton energi predominannya adalah aerobik yang berasal dari karbohidrat dan lemak.

Tabel 3.
Contoh prosentasi penyediaan energi predominan arobik dan anaerobik pada latihan/olahraga lari :

Jarak lari
Waktu
% aerobik
% anaerobik
100 m
10 detik
10
90
400 m
45 detik
25
75
1500 m
3 menit, 35 detik
55
45
5000 m
13 menit, 30 detik
85
15
Lari marataton
135 – 180 menit
95
5

Sumber : (Fox, 1991).

Beberapa latihan (olahraga) seperti sepak bola dan bulutangkis terjadi secara tidak kontinyu. Aktivitas dapat terjadi cepat, lambat bahkan kadang diam, tetapi berlangsung dalam waktu yang lama. Pada latihan ini ATP-PC digunakan dan dibentuk kembali secara cepat. Penggantian ATP-PC terjadi secara aerobik. Karena oksigen yang cukup, dengan demikian asam laktat menjadi berkurang dan tidak tejadi penumpukan. Tetapi jika terjadi kerja seperti reli-reli panjang pada bulutangkis, maka sistem asam laktat akan digunakan, karena terjadi stroke pada otot yang sama dan ini dapat menimbulkan kelelahan.

B.                 ADAPTASI METABOLIK PADA LATIHAN
Keseluruhan mekanisme yang bertanggungjawab terhadap peningkatan kekuatan dan ketahanan otot tidak sepenuhnya dimengerti. Ada beberapa perubahan metabolik dan morfologi bila latihan dilakukan selama beberapa hari atau beberapa minggu. Perubahan metabolik yang terjadi tergantung pada jenis latihan dengan pemakaian sistem energi predominannya (Wilmore dan Costill, 1994).

1.                  Adaptasi Latihan
Latihan ketahanan yang dilakukan setiap hari, seperti jogging atau renang, timbul beberapa perubahan karena stimulus pada otot. Beberapa perubahan timbul pada otot dan sistem energi.
1.1              Adaptasi pada latihan aerobik adalah  :
a.                   Perubahan jenis serat otot
Latihan aerobik seperti jogging dan latihan dengan intensitas latihan rendah sampai sedang banyak menggunakan jenis otot slow twicth, maka pada latihan aerobik terjadi perkembangan pada serat slow twitch (otot merah). Karena latihan 7%-22% serat otot Slow Twitch menjadi lebih besar dari pada serat otot fast twicth.
b.         Perubahan supplai kapiler
Latihan ketahanan jumlah kapiler yang mensupplai pada setiap otot menjadi lebih banyak 5–10%, dan pada latihan yang lebih lama dapat meningkat sampai 15 %. Peningkatan jumlah kapiler ini memungkinkan pertukaran gas, panas, sisa metabolisme, dan nutrisi antara darah dan otot semakin besar. Hal ini menjaga produksi energi dan kontraksi otot yang berulang-ulang.
c.                   Perubahan kadar myoglobin
Myoglobin berfungsi membawa oksigen dari membran sel ke metokondria untuk metabolisme aerobik.  Latihan ketahanan banyak memerlukan oksigen, sehingga kadar myoglobin dapat meningkat 75 s/d 85 %,  myoglobin ini banyak terdapat pada serat otot slow twich (ST).
d.                  Perubahan fungsi metokondria
Latihan ketahanan juga mempengaruhi fungsi metokondria, guna meningkatkan kapasitas serat otot untuk meproduksi ATP secara aerobik.  Kemampuan untuk menggunakan oksigen dan menghasilkan ATP tergantung pada jumlah, ukuran dan efisiensi pada metokondria. Sehingga pada latihan ketahanan, jumlah dan ukuran metokondria menjadi lebih besar.
e.                   Perubahan enzim oksidative
Aktivitas enzim oksidatif meningkat pada latihan ketahanan. Peningkatan jumlah dan ukuran metokondria disertai dengan peningkatan efisiensi metokondria. Pemecahan bahan makanan secara oksidatif dan produksi ATP bergantung pada aksi enzim metokondria. Salah satu enzim yang memegang kunci enzim oksidatif adalah succinate dehydroginase (SDH) selama latihan terjadi peningkatan. 
f.                   Perubahan pada sumber energi
Latihan aerobik, sumber energi lebih banyak dan efisien menggunakan dari lemak. Dengan demikian memungkinkan penyimpanan glikogen pada hati dan otot. Orang yang terlatih (atlet) simpanan glikogen dalam otot lebih besar dari pada orang yang tidak terlatih, sehingga orang yang terlatih lebih tahan berkativitas dan tidak cepat lelah. Pada orang yang terlatih juga menyimpan lebih banyak trigliserida dalam otot. Aktivitas enzim yang berperan dalam beta oksidasi yang memecah lemak, kemudian menjadi energi juga meningkat pada latihan. Peningkatan reaksi beta oksidasi ini meningkatkan penggunaan lemak sebagai energi dan glikogen otot lebih banyak tersimpan (Wilmore dan Costill, 1994).

2.                  Adaptasi pada latihan anaerobik
Latihan anaerobik meningkatkan ATP-PC dan enzim glikolitik, tetapi tidak mempengaruhi enzim oksidatif. Sebaliknya pada latihan aerobik meningkatkan enzim oksidatif tetapi tidak meningkatkan ATP-PC dan enzim glikolitik.
a.                   Peningkatan sistem ATP-PC
Meningkatnya kapasitas ATP-PC disebabkan oleh perubahan zat kimia, yaitu (1) meningkatkan tingkat penyimpanan ATP-PC pada otot, (2) meningkatkan enzim kunci dalam sistem ATP-PC. Pemecahan ATP dipermudah oleh enzim ATPase, sedangkan resintesis dipermudah dengan enzim miokinase dan kreatin phospo kinase (CPK).
b.                  Peningkatan glikolisis anaerobik
Latihan mempunyai pengaruh yang cukup berarti pada glikolisis anaerobik, dengan perubahan pada enzim kunci yang mengontrol glikolisis. Sebagai contoh adalah enzim fosfofruktokinase yang sangat penting dalam reaksi awal glikolisis. Peningkatan enzim ini, akan mempercepat laju dan pemecahan glikogen menjadi asam laktat (Wilmore dan Costill, 1994).

Simpulan
Umumnya latihan tidak murni menggunakan energi aerobik saja atau anaerobik saja tetapi biasanya terjadi campuran. Namun, terdapat sistem energi predominan yang digunakan aerobik atau anaerobik. Tidak semua pengaruh latihan dapat diharapkan dari satu program latihan. Pengaruh latihan merupakan kekhususan untuk tipe dari latihan yang digunakan, seperti pada program latihan aerobik atau anaerobik. Adaptasi yang terjadi pada latihan Aerobik adalah : (1) Perubahan jenis serat otot, (2) Perubahan supplai kapiler, (3) Perubahan kadar myoglobin, (4) Perubahan fungsi metokondria, (5) Perubahan enzim oksidatif, (6) Perubahan pada sumber energi. Adaptasi yang terjadi pada latihan anaerobik adalah : (1) Peningkatan sistem ATP-PC, (2) Peningkatan glikolisis anaerobik.

DAFTAR PUSTAKA
Costil, Wilmore (1994). Physiology of  Sport and Exercise. Human Kinetics. University of Texas at Austin.

Edward L. Fox, Etc, (1993), The Physiological Basis For Exercise and Sport, USA

Ethel Sloane, (2004). Anatomi dan Fisiologi, Jakarta:EGC Kedokteran,

Gayton & Hall (2002). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta :EGC Kedokteran,

Gillian Pocock, (2004). Human Physiology The basis Of medicine, Oxford University Press. London.

Ilhamjaya Patellongi, dkk (2000). Fisiologi Olah Raga. Makasar. Bagian Ilmu Faal, Fakultas Kedokteran Universitas Hasanudin.

Jack H. Wilmore, (1994). Phyisiology of Sport And Exercise, Ball State University, Muncie, Indiana.

Lauralee Sherwood (2001). Fisiologi Manusia dari Sel Ke Sistem, Jakarta : EGC Kedokteran.

Soekarman, R. (1989). Dasar-Dasar Olah Raga. Jakarta: Inti Idayu Press.

_______  (2007), retrife dari (btc.montana.edu/.../graphics/Aerobik.JPG

_______  (2007), retrife dari ibrary.thinkquest.org/.../media/kreb_cycle.gif

_______  (2007), retrife dari orgs.jmu.edu/.../Image135.gif

(posted By admin)

No comments:

Post a Comment

Featured Post

KESEIMBANGAN PANAS : LATIHAN DISAAT PANAS DAN DINGIN

Sport_Medicine_Online Ke seimbang panas diperoleh ketika terjadi kesamaan jumlah panas yang hilang dengan yang diproduksi atau didapatka...