Wednesday, January 22, 2014

ALDOSTERON, RAAS SYSTEM DAN AKTIVITAS FISIK

Sport_Medicine_Online



ALDOSTERON, RAAS SYSTEM DAN AKTIVITAS FISIK




Oleh :
Aminuddin                                                     011214553004
Amir Chamdani                                            011214553009
Taufiq Widyabakti                                       011214553013
Dony Ardy Kusuma                                      011214553014

  

BAB 1
PENDAHULUAN



Korteks adrenal menghasilkan beberapa hormon steroid, yang paling penting adalah kortisol, aldosteron dan androgen adrenal. Korteks adrenal terdiri dari daerah yang secara anatomi dapat dibedakan yaitu lapisan luar zona glomerulosa, merupakan tempat dihasilkannya mineralokorticoid (aldosterone), lapisan tengah zona fasciculata pada lapisan tengah, dengan tugas utama sintesis glukokortikoid, terutama diatur oleh ACTH dan lapisan dalam zona reticularis, tempat sekresi androgen adrenal (terutama dehydroepiandrostenedion (DHEA) juga glukokortikoid (kortisol and corticosteron).
Aldosteron adalah mineralokortikoid terpenting, mengatur keseimbangan air dan elektrolit melalui pengendalian kadar natrium dan kalium dalam darah Sekresi aldosteron diatur oleh kadar natrium darah, tetapi terutama oleh mekanisme renin-angiotensin. Peningkatan konsentrasi kalium yang rendah dapat menyebabkan beberapa kali peningkatan aldosterone beberapa kali. Dan juga aktivasi dari system renin-angiotensin, biasanya sebagai efek dari berkurangnya aliran darah ke ginjal, dapat menyebabkan peningkatan sekresi aldosterone yang besar. Selanjutnya Aldosteron akan bekerja di ginjal dengan membantu ginjal mengeluarkan kelebihan ion kalium, meningkatkan volume darah dan tekanan arteri, jadi mengembalikan sistem renin-angiotensin dalam keadaan normal.
Sedikit penelitian yang membahas tentang keadaan aldosterone pada saat beraktifitas fisik, diyakini erat kaitannya peningkatan aldosterone pada peningkatan tekanan darah dan berkurangnya volume cairan dalam darah. Ini menjadi penting untuk dibahas tentang keadaan aldosteron dikarenakan kerjanya yang mengatur keseimbangan cairan tubuh yang dimana cairan tubuh itu sendiri menjadi faktor yang penting pada saat kita melakukan aktifitas fisik.

BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Hormon Aldosterone
Aldosterone merupakan hormone utama dari mineralkortikoid, di keluarkan oleh kelenjar adrenal bagian luar yang disebut dengan korteks adrenal.  Aldosterone termasuk dalam hormone steroid karena struktur utamanya yang terdiri dari unsur kolesterol. Hormone ini berdifusi dengan mudah ke dalam membrane sel, baik dari sel asal atau ke target organ.
Gambar 2.1 Lapisan pada adrenal korteks

Korteks adrenal terdiri atas 3 lapisan atau zona, yaitu zona glomerusa – lapisan terluar, zona fasikulata – lapisan tengah dan yang terbesar, dan zona retikularis – lapisan paling dalam. Aldosterone secara eksklusif diproduksi di zona glomerusa, semua hormone adrenol korteks bersifat lipofilik artinya diangkut ke dalam darah dalam keadaan terikat ke protein plasma terutama albumin.
2
Efek utama hormone aldosterone adalah pada keseimbangan Na+ dan K+ serta homeostasis tekanan darah. tempat kerja utama aldosteron adalah di tubulus distal pada ginjal, disini hormone aldosterone akan bekerja dalam mendorong retensi pada Na+ dan meningkatkan eliminasi K+ sewaktu waktu pada saat proses pembentukan urine. oleh faktor yang berkaitan dengan penurunan Na+ dan tekanan darah serta stimulasi langsung korteks adrenal oleh peningkatan konsentrasi K+ plasma. dalam kerjanya, hormone aldosterone termasuk dalam bagian sistem renin – angiotensin – aldosterone yang meregulasi volume darah dan tekanan darah.

2.2 Sistem Renin – Angiotensin – Aldosterone
Hormon aldosterone dalam kerjanya sebagai regulator absorpsi natrium dan meningkatkan sekresi kalium. Sistem renin – angiotensin – aldosterone merupakan suatu sistem yang melibatkan hormone aldosteron, renin dan angiotensin yang berfungsi untuk mengatur tekanan darah dan volume cairan tubuh. Dalam mekanisme ini terdapat beberapa hormone diantaranya adalah :
1.      Renin :
suatu hormone enzimatik yang dikeluarkan ginjal, renin dikeluarkan ke dalam darah dalam merespon terhadap NaCl , volume cairan ekstraselular dan tekanan darah.
2.      Angiotensin :
merupakan bentukan dari angiotensinogen yang di sekresi oleh hati,  angiotensinogen akan dirubah kedalam bentuk angiotensin I oleh renin. Angiotensin I memiliki sifat vasokonstriktor yang ringan tetapi dapat bertahan lama dalam darah. Setelah itu angiontensin I akan diubah ke angiotensin II oleh angiotensin converting enzyme yang diproduksi di paru. Angiotensin II merangsang korteks adrenal untuk mengeluarkan hormone aldosterone
3.      Aldosterone :
 sebagai regulator keseimbangan Na+ dan K+ serta homeostasis tekanan darah, retensi Na+ yang terjadi akibat aldosterone menimbulkan efek osmotik yang menahan lebih banyak H2O pada cairan ekstraselular.

     Mekanisme kerja dari sistem Renin – Angiotensin – Aldosteron dapat dimulai dari rangsangan penurunan volume darah (contohnya kekurangan cairan) atau tekanan darah (contohnya saat  terjadi pendarahan). Hal ini akan merangsang ginjal untuk mengsekresi renin yang akan dilepaskan ke dalam sirkulasi darah dan bertemu dengan angiotensinogen yang disekresi oleh hati.  angiotensin akan berubah menjadi angiotensin I setelah itu bertemu dengan Angiotensin converting enzyme (ACE) yang dihasilkan di endotel pembuluh paru yang akan berubah menjadi angiotensin II. Angiotensin II akan menyebabkan beberapa efek, yaitu :

1.      Vasokontriksi di seluruh tubuh terutama di artetiol yang akan meningkatkan tahanan perifer total sehingga terjadi peningkatan tekanan arteri.
2.      Menurunkan ekskresi garam dan air sehingga meningkatkan volume ekstra sel yang menyebabakan peningkatan tekanan arteri juga.
3.      Merangsang sekresi aldosteron di kelenjar adrenal yang meningkatkan reabsorpsi garam dan air oleh ginjal
4.      Dan, merangsan susunan saraf pusat untuk menjadi haus sehingga kelenjar pituitary posterior mengeluarkan hormone vasopressin (ADH) yang akan menstimulasi reabsorpsi air dan peningkatan rangsangan simpatis untuk peningkatan curah jantung.

2.3 Hormon Aldosterone dan aktifitas fisik
Hormon aldosteron dalam kerjanya tidak terlepas dari sistem renin – angiotensin – aldosterone. Sistem Renin – Angiotensin – aldosterone mempunyai peranan utama dalam meregulasi respon fisiologis dan adaptasi dari keseimbangan cairan elektrolit sebagaimana yang terjadi pada fungsi kardiovaskular pada saat beraktifitas fisik. Sedikit penelitian yang membahas tentang keadaan sistem renin – angiotensin – aldosterone dan aktifitas fisik. Yang terdapat dalam literatur yang beredar adalah kadar aldosterone akan meningkat seiring dengan intensitas latihan yang dilakukan oleh sampel.

           Dalam literature oleh Buono & Staesen dikatakan bahwa peningkatan konsentrasi aldosteron terjadi secara lambat untuk 2 penyebab , yang pertama adalah adanya stimulus angiotensin II, dan yang kedua adalah respon yang meningkatkan aldosteron itu sendiri yang terjadi setelah beberapa rangkaian dalam sistem renin – angiotensin – aldosteron.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Perrault yang melakukan aktifitas fisik jangka pendek dengan intensitas 67% dari VO2max menggunan ergocycle mengatakan bahwa dengan intensitas yang tetap akan terjadi peningkatan plasma aldosteron seiring dengan durasi latihan yang semakin meningkat.

          Peningkatan juga terjadi pada konsentrasi renin dan angiotensin. Dikutip dari Scott & Edward dibuktikan bahwa terjadi peningkatan pada ketiga hormone dalam sistem sistem renin – angiotensin – aldosteron

            Pelepasan dari aldosterone pada saat beraktifitas fisik dipengaruhi dari intensitas pada saat aktifitas fisik, dalam satu penelitian oleh Penelitian oleh Montain 1997. melakukan aktifitas fisik intensitas rendah selama 20 menit, peningkatan sebanyak 12%, intensitas sedang,peningkatan sebanyak 50%, intensitaa berat, peningkatan 75% sampai 80%. Mekanisme ini nampakanya berhubungan dengan sistem saraf simpatis dan catecholamine. Aktifitas fisik menyebabkan peningkatan aktifitas simpatis – catecholamine, hal ini bisa mengakibatkan aktifnya beta adenoreceptors pada pembuluh arteri di ginjal, sehingga arteri menjadi vasokontriksi dan mengurangi aliran darah ke ginjal, hal ini mengakibatkan tekanan darah naik dan merangsang produksi renin oleh ginjal yang berujung pada meningkatnya aldosterone.
            pada aktivitas jangka pendek, konsentrasi angiotensin lebih tinggi daripada konsentrasi aldosterone dikarenakan sekresi renin pada ginjal dan pada aktivitas jangka panjang sekresi aldosterone akan lebih tinggi dibandingkan angiotensin, ini diakibatkan keseimbangan cairan tubuh yang terganggu ( dehidrasi ).



BAB 3
KESIMPULAN

            Aldosterone di sekresi oleh adrenal korteks untuk meregulasi konsentrasi Na+ dan K+ di dalam tubuh. ini dilakukan untuk menjaga homeostasis cairan dalam tubuh. dalam kerjanya. Aldosterone berhubungan dalam suatu sistem berupa sistem renin – angiotensin. Sistem gabungan ini saling berikatan satu sama lain dalam menjaga regulasi cairan dan tekanan darah dalam tubuh.
            Dalam hubungan dengan aktifitas fisik. Peningkatan baik kadar aldosteron – renin dan angiotensin sejalan dengan peningkatan pada latihan baik pada intensitas beban maupun durasi pada saat latihan. Perbedaan yang terjadi hanya pada kadar angiotensin yang lebih tinggi daripada aldosteron pada saat aktifitas jangka pendek dan pada saat beraktifitas jangka panjang, peningkatan aldosteron lebih tinggi ini dipercaya akibat ketidakseimbangan pada cairan tubuh.


DAFTAR PUSTAKA

Buono MJ. Yeager JE.1991. Increases in aldosterone precede those of cortisol during graded exercise. J. sports Med Phys Fitness.
Garret William E. 2000. Exercise and Sport Science. Lippicott Williams and wilkins.
Guyton AC and Hall JE. 2006. Textbook of Medical Physiology. 11th ed. Elsevier Inc, Philadelphia.
Hernawati, Sistem renin-angiotensin-aldosteron : perannya dalam pengaturan tekanan darah dan hipertensi.  FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia. Artikel tidak dipublikasi.

H. Perrault, M. Cantin.1991. Plasma Atriopeptin response to prolonged cycling in humans. American Physiology Society

Ikawati, Zullies. 2008. Pengantar Farmakologi Molekuler. UGM Press. Yogyakarta.
Montain SJ,Laird JE. 1997. Aldosterone and vasopressin responses in the heat: hydration level and exercise intensity effects. Med Sci Sports Exerc. 29(5):661-8.
Montain SJ, 1997. Aldosterone and vasopressin responses in the heat: hydration level and exercise intensity effects. Med Sci Sports Exerc. (5):661-8.
Sherwood L. 2004. Human Physiology From Cells to System. 5th ed. Thomson Learning Inc, USA.




 




3 comments:

  1. This info is priceless. How can I find out more?


    Review my web site: Louboutin Shoes

    ReplyDelete
  2. Hey tҺere! I've bеen following your web siоte foг a long time now and finally got tɦe courage to go ahead and gve you a shout out frοm Kingwood Texas!

    Just wanted to say keep up the fantastic work!


    my web paǥe - Wireless Beats By Dre

    ReplyDelete
  3. I haѵe been brοwsing online more thn 2 hours todaƴ, yet I neever found any interesting article like yours.
    It's pretty worth enough for me. In my vіew, if all wеbsite owеrs and bloggers made gokod content aas you did, the internet will bee much mоre useful than ever befoгe.



    my site :: mont blanc nyc

    ReplyDelete

Featured Post

CEDERA PADA OLAHRAGA TENIS LAPANGAN

Sport_Medicine_Online Teknik, Sarana dan Perlengkapan Tenis Lapangan A.        Latar belakang Olahraga tenis merupakan salah satu ol...