Wednesday, January 22, 2014

ALDOSTERON, RAAS SYSTEM DAN AKTIVITAS FISIK

Sport_Medicine_Online



ALDOSTERON, RAAS SYSTEM DAN AKTIVITAS FISIK




Oleh :
Aminuddin                                                     011214553004
Amir Chamdani                                            011214553009
Taufiq Widyabakti                                       011214553013
Dony Ardy Kusuma                                      011214553014

  

BAB 1
PENDAHULUAN



Korteks adrenal menghasilkan beberapa hormon steroid, yang paling penting adalah kortisol, aldosteron dan androgen adrenal. Korteks adrenal terdiri dari daerah yang secara anatomi dapat dibedakan yaitu lapisan luar zona glomerulosa, merupakan tempat dihasilkannya mineralokorticoid (aldosterone), lapisan tengah zona fasciculata pada lapisan tengah, dengan tugas utama sintesis glukokortikoid, terutama diatur oleh ACTH dan lapisan dalam zona reticularis, tempat sekresi androgen adrenal (terutama dehydroepiandrostenedion (DHEA) juga glukokortikoid (kortisol and corticosteron).
Aldosteron adalah mineralokortikoid terpenting, mengatur keseimbangan air dan elektrolit melalui pengendalian kadar natrium dan kalium dalam darah Sekresi aldosteron diatur oleh kadar natrium darah, tetapi terutama oleh mekanisme renin-angiotensin. Peningkatan konsentrasi kalium yang rendah dapat menyebabkan beberapa kali peningkatan aldosterone beberapa kali. Dan juga aktivasi dari system renin-angiotensin, biasanya sebagai efek dari berkurangnya aliran darah ke ginjal, dapat menyebabkan peningkatan sekresi aldosterone yang besar. Selanjutnya Aldosteron akan bekerja di ginjal dengan membantu ginjal mengeluarkan kelebihan ion kalium, meningkatkan volume darah dan tekanan arteri, jadi mengembalikan sistem renin-angiotensin dalam keadaan normal.
Sedikit penelitian yang membahas tentang keadaan aldosterone pada saat beraktifitas fisik, diyakini erat kaitannya peningkatan aldosterone pada peningkatan tekanan darah dan berkurangnya volume cairan dalam darah. Ini menjadi penting untuk dibahas tentang keadaan aldosteron dikarenakan kerjanya yang mengatur keseimbangan cairan tubuh yang dimana cairan tubuh itu sendiri menjadi faktor yang penting pada saat kita melakukan aktifitas fisik.

BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Hormon Aldosterone
Aldosterone merupakan hormone utama dari mineralkortikoid, di keluarkan oleh kelenjar adrenal bagian luar yang disebut dengan korteks adrenal.  Aldosterone termasuk dalam hormone steroid karena struktur utamanya yang terdiri dari unsur kolesterol. Hormone ini berdifusi dengan mudah ke dalam membrane sel, baik dari sel asal atau ke target organ.
Gambar 2.1 Lapisan pada adrenal korteks

Korteks adrenal terdiri atas 3 lapisan atau zona, yaitu zona glomerusa – lapisan terluar, zona fasikulata – lapisan tengah dan yang terbesar, dan zona retikularis – lapisan paling dalam. Aldosterone secara eksklusif diproduksi di zona glomerusa, semua hormone adrenol korteks bersifat lipofilik artinya diangkut ke dalam darah dalam keadaan terikat ke protein plasma terutama albumin.
2
Efek utama hormone aldosterone adalah pada keseimbangan Na+ dan K+ serta homeostasis tekanan darah. tempat kerja utama aldosteron adalah di tubulus distal pada ginjal, disini hormone aldosterone akan bekerja dalam mendorong retensi pada Na+ dan meningkatkan eliminasi K+ sewaktu waktu pada saat proses pembentukan urine. oleh faktor yang berkaitan dengan penurunan Na+ dan tekanan darah serta stimulasi langsung korteks adrenal oleh peningkatan konsentrasi K+ plasma. dalam kerjanya, hormone aldosterone termasuk dalam bagian sistem renin – angiotensin – aldosterone yang meregulasi volume darah dan tekanan darah.

2.2 Sistem Renin – Angiotensin – Aldosterone
Hormon aldosterone dalam kerjanya sebagai regulator absorpsi natrium dan meningkatkan sekresi kalium. Sistem renin – angiotensin – aldosterone merupakan suatu sistem yang melibatkan hormone aldosteron, renin dan angiotensin yang berfungsi untuk mengatur tekanan darah dan volume cairan tubuh. Dalam mekanisme ini terdapat beberapa hormone diantaranya adalah :
1.      Renin :
suatu hormone enzimatik yang dikeluarkan ginjal, renin dikeluarkan ke dalam darah dalam merespon terhadap NaCl , volume cairan ekstraselular dan tekanan darah.
2.      Angiotensin :
merupakan bentukan dari angiotensinogen yang di sekresi oleh hati,  angiotensinogen akan dirubah kedalam bentuk angiotensin I oleh renin. Angiotensin I memiliki sifat vasokonstriktor yang ringan tetapi dapat bertahan lama dalam darah. Setelah itu angiontensin I akan diubah ke angiotensin II oleh angiotensin converting enzyme yang diproduksi di paru. Angiotensin II merangsang korteks adrenal untuk mengeluarkan hormone aldosterone
3.      Aldosterone :
 sebagai regulator keseimbangan Na+ dan K+ serta homeostasis tekanan darah, retensi Na+ yang terjadi akibat aldosterone menimbulkan efek osmotik yang menahan lebih banyak H2O pada cairan ekstraselular.

     Mekanisme kerja dari sistem Renin – Angiotensin – Aldosteron dapat dimulai dari rangsangan penurunan volume darah (contohnya kekurangan cairan) atau tekanan darah (contohnya saat  terjadi pendarahan). Hal ini akan merangsang ginjal untuk mengsekresi renin yang akan dilepaskan ke dalam sirkulasi darah dan bertemu dengan angiotensinogen yang disekresi oleh hati.  angiotensin akan berubah menjadi angiotensin I setelah itu bertemu dengan Angiotensin converting enzyme (ACE) yang dihasilkan di endotel pembuluh paru yang akan berubah menjadi angiotensin II. Angiotensin II akan menyebabkan beberapa efek, yaitu :

1.      Vasokontriksi di seluruh tubuh terutama di artetiol yang akan meningkatkan tahanan perifer total sehingga terjadi peningkatan tekanan arteri.
2.      Menurunkan ekskresi garam dan air sehingga meningkatkan volume ekstra sel yang menyebabakan peningkatan tekanan arteri juga.
3.      Merangsang sekresi aldosteron di kelenjar adrenal yang meningkatkan reabsorpsi garam dan air oleh ginjal
4.      Dan, merangsan susunan saraf pusat untuk menjadi haus sehingga kelenjar pituitary posterior mengeluarkan hormone vasopressin (ADH) yang akan menstimulasi reabsorpsi air dan peningkatan rangsangan simpatis untuk peningkatan curah jantung.

2.3 Hormon Aldosterone dan aktifitas fisik
Hormon aldosteron dalam kerjanya tidak terlepas dari sistem renin – angiotensin – aldosterone. Sistem Renin – Angiotensin – aldosterone mempunyai peranan utama dalam meregulasi respon fisiologis dan adaptasi dari keseimbangan cairan elektrolit sebagaimana yang terjadi pada fungsi kardiovaskular pada saat beraktifitas fisik. Sedikit penelitian yang membahas tentang keadaan sistem renin – angiotensin – aldosterone dan aktifitas fisik. Yang terdapat dalam literatur yang beredar adalah kadar aldosterone akan meningkat seiring dengan intensitas latihan yang dilakukan oleh sampel.

           Dalam literature oleh Buono & Staesen dikatakan bahwa peningkatan konsentrasi aldosteron terjadi secara lambat untuk 2 penyebab , yang pertama adalah adanya stimulus angiotensin II, dan yang kedua adalah respon yang meningkatkan aldosteron itu sendiri yang terjadi setelah beberapa rangkaian dalam sistem renin – angiotensin – aldosteron.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Perrault yang melakukan aktifitas fisik jangka pendek dengan intensitas 67% dari VO2max menggunan ergocycle mengatakan bahwa dengan intensitas yang tetap akan terjadi peningkatan plasma aldosteron seiring dengan durasi latihan yang semakin meningkat.

          Peningkatan juga terjadi pada konsentrasi renin dan angiotensin. Dikutip dari Scott & Edward dibuktikan bahwa terjadi peningkatan pada ketiga hormone dalam sistem sistem renin – angiotensin – aldosteron

            Pelepasan dari aldosterone pada saat beraktifitas fisik dipengaruhi dari intensitas pada saat aktifitas fisik, dalam satu penelitian oleh Penelitian oleh Montain 1997. melakukan aktifitas fisik intensitas rendah selama 20 menit, peningkatan sebanyak 12%, intensitas sedang,peningkatan sebanyak 50%, intensitaa berat, peningkatan 75% sampai 80%. Mekanisme ini nampakanya berhubungan dengan sistem saraf simpatis dan catecholamine. Aktifitas fisik menyebabkan peningkatan aktifitas simpatis – catecholamine, hal ini bisa mengakibatkan aktifnya beta adenoreceptors pada pembuluh arteri di ginjal, sehingga arteri menjadi vasokontriksi dan mengurangi aliran darah ke ginjal, hal ini mengakibatkan tekanan darah naik dan merangsang produksi renin oleh ginjal yang berujung pada meningkatnya aldosterone.
            pada aktivitas jangka pendek, konsentrasi angiotensin lebih tinggi daripada konsentrasi aldosterone dikarenakan sekresi renin pada ginjal dan pada aktivitas jangka panjang sekresi aldosterone akan lebih tinggi dibandingkan angiotensin, ini diakibatkan keseimbangan cairan tubuh yang terganggu ( dehidrasi ).



BAB 3
KESIMPULAN

            Aldosterone di sekresi oleh adrenal korteks untuk meregulasi konsentrasi Na+ dan K+ di dalam tubuh. ini dilakukan untuk menjaga homeostasis cairan dalam tubuh. dalam kerjanya. Aldosterone berhubungan dalam suatu sistem berupa sistem renin – angiotensin. Sistem gabungan ini saling berikatan satu sama lain dalam menjaga regulasi cairan dan tekanan darah dalam tubuh.
            Dalam hubungan dengan aktifitas fisik. Peningkatan baik kadar aldosteron – renin dan angiotensin sejalan dengan peningkatan pada latihan baik pada intensitas beban maupun durasi pada saat latihan. Perbedaan yang terjadi hanya pada kadar angiotensin yang lebih tinggi daripada aldosteron pada saat aktifitas jangka pendek dan pada saat beraktifitas jangka panjang, peningkatan aldosteron lebih tinggi ini dipercaya akibat ketidakseimbangan pada cairan tubuh.


DAFTAR PUSTAKA

Buono MJ. Yeager JE.1991. Increases in aldosterone precede those of cortisol during graded exercise. J. sports Med Phys Fitness.
Garret William E. 2000. Exercise and Sport Science. Lippicott Williams and wilkins.
Guyton AC and Hall JE. 2006. Textbook of Medical Physiology. 11th ed. Elsevier Inc, Philadelphia.
Hernawati, Sistem renin-angiotensin-aldosteron : perannya dalam pengaturan tekanan darah dan hipertensi.  FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia. Artikel tidak dipublikasi.

H. Perrault, M. Cantin.1991. Plasma Atriopeptin response to prolonged cycling in humans. American Physiology Society

Ikawati, Zullies. 2008. Pengantar Farmakologi Molekuler. UGM Press. Yogyakarta.
Montain SJ,Laird JE. 1997. Aldosterone and vasopressin responses in the heat: hydration level and exercise intensity effects. Med Sci Sports Exerc. 29(5):661-8.
Montain SJ, 1997. Aldosterone and vasopressin responses in the heat: hydration level and exercise intensity effects. Med Sci Sports Exerc. (5):661-8.
Sherwood L. 2004. Human Physiology From Cells to System. 5th ed. Thomson Learning Inc, USA.




 




Sunday, January 19, 2014

METODE PEMANASAN : UNTUK ANAK DAN USIA REMAJA

Sport_Medicine_Online
ANAK DAN USIA REMAJA
Aminuddin, S.Or.,M.Kes
(Praktisi sekaligus Akademisi bidang Ilmu Kesehatan dan Olahraga)

 PENDAHULUAN
Kegiatan pemanasan harus dimasukkan ke dalam pelatihan apapun serta rutinitas sebagai kompetisi. Pada dasarnya dalam setiap proses pembelajaran cabang olahraga baik dalam cabang olahraga senam, atletik, maupun permainan, selalu diawali dengan pemanasan. Pemanasan merupakan awal kegiatan dalam setiap pembelajaran olahraga. Setiap pembelajaran, pemanasan memberikan peranan penting untuk membawa anak atau menanamkan kesan pertama kepada anak tentang apa yang akan dilakukan pada inti pembelajaran.

Harsono (2000) menyatakan bahwa sebelum memberikan aktivitas fisik atau olahraga yang sesuai bagi anak usia dini (6-14 tahun), sebaiknya harus mengetahui dan disesuaikan dengan karakteristik pertumbuhan dan perkembangan anak, baik pertumbuhan fisik, maupun mental emosionalnya. Lebih lanjut menurut Agus Mahendra (2003) menyatakan bahwa ruang lingkup pendidikan jasmani yang ditawarkan di sekolah dasar semestinya dikembangkan berdasarkan kebutuhan anak-anak, serta memperhatikan beberapa pertimbangan diantaranya: 1) dasar-dasar pengembangan program, 2) pola pertumbuhan dan perkembangan anak, 3) dorongan dasar anak-anak, dan 4) karakteristik serta minat anak.
 Pemanasan mempersiapkan tubuh untuk aktivitas, serta membantu untuk mencegah cedera otot, yang dapat lebih rentan terhadap cedera saat dingin (www.primaryresources.co.uk). Pemanasan merupakan salah satu bagian dasar dari program latihan permulaan (conditioning program). Pemanasan terdiri dari sekelompok latihan yang dilakukan pada saat hendak melakukan aktivitas olahraga (Alter, Michael J, 2003). 
 Pada anak-anak sebelum masuk ke materi atau latihan inti sebaiknya didahului dengan pemanasan. Pemanasan merupakan suatu elemen penting untuk pelajaran pendidikan jasmani, memperkenalkan pengetahuan tentang gerakan-gerakan baru dalam olahraga. Selain itu pemanasan membantu membangun interaksi sosial antara individu anak (www.limerickcitysports.ie).

Pemanasan dapat dimulai dengan berjalan, berlari-lari kecil, senam, atau juga dapat dengan modifikasi berupa permainan dengan intensitas yang cukup karena Pemanasan berguna untuk menghangatkan suhu otot, melancarkan aliran darah dan memperbanyak masuknya oksigen ke dalam tubuh, memperbaiki kontraksi otot dan kecepatan gerak refleks, juga untuk mencegah kejang otot (carapedia.com)
Idealnya pemanasan biasanya tergantung pada olahraga, tingkat persaingan dan umur peserta. Sebuah pemanasan harus menggabungkan kelompok otot dan kegiatan yang diperlukan selama pelatihan atau kompetisi. Intensitas dari pemanasan harus dimulai pada tingkat rendah secara bertahap membangun ke tingkat intensitas yang diperlukan selama pelatihan atau kompetisi. Bagi sebagian atlet 5-15 menit sudah mencukupi. Namun dalam cuaca dingin durasi pemanasan harus ditingkatkan (Jhon Byl, 2004).
Tanpa pemanasan yang memadai sebelum melakukan aktivitas latihan yang dominan menggerakkan otot , sendi dan tulang akan dapat mengakibatkan cedera pada otot dan cedera sendi . Tentu saja, cedera akan sangat mengganggu aktivitas dan mungkin sangat menyakitkan dan membutuhkan perawatan medis lebih lanjut . Cedera otot bisa keseleo , salah urat , keseleo , kram otot , nyeri otot , dan sebagainya.

TINJAUAN PUSTAKA
1.  Pemanasan
Secara mendasar terdapat empat tahapan dalam melakukan latihan fisik, yaitu latihan peregangan (stretching), latihan pemanasan (warm-up), pelaksanaan latihan (latihan inti) dan latihan yang ditujukan untuk pendinginan (cool-down) atau pemulihan (Fox et al, 1993). Latihan pemanasan (Warming-up) merupakan salah satu bagian dasar dari program latihan permulaan (conditioning program), latihan pemanasan terdiri dari sekelompok latihan gerakan yang dilakukan pada saat hendak melakukan aktivitas olahraga. Dengan melakukan latihan pemanasan tersebut diharapkan akan memberikan penyesuaian pada kondisi tubuh dari keadaan istirahat  sebelum melakukan aktivitas olahraga.

 Latihan pemanasan diharapkan dapt memperbaiki penampilan seorang atlet serta dapat mengurangi kemungkinan terjadinya  cedera pada saat latihan memobilisasi. Latihan pemanasan yang dilakukan sebelum aktivitas yang sesungguhnya, merupakan suatu cara untuk menyiapkan tubuh dalam menghadapi aktivitas yang sesungguhnya, merupakan suatu cara untuk menyiapkan tubuh dalam menghadapi aktivitas yang lebih berat dan sebagai pencegah terjadinya cedera (J.After Michael, 2003). Dengan latihan pemanasan tersebut dapat merangsang  jantung dan paru-paru, aliran darah serta temperatur tubuh dan otot (Strauss, 1979).

Pemanasan hendaklah terdiri dari tiga bagian yaitu : peregangan (streching) yang bertujuan untuk memperluas gerak sendi, dan sangat membantu pada penampilan tehnik seorang atlet. Disamping itu juga dapat mencegah terjadinya cedera, yaitu adanya sobekan pada serabut otot dan jaringan ikat serta mencegah terjadinya rasa sakit atau kaku pada otot, Senam (calasthenic) yang bertujuan untuk mengembangkan kekuatan otot dan daya tahan, aktivitas formal (formal activity) biasanya digunakan dalam program aerobik, dengan tujuan untuk meningkatkan koordinasi gerak dengan menyerupai aktivitas sesungguhnya (Fox et.al., 1993). 
Dengan adanya peningkatan temperatur akibat melakukan pemanasan menyebabkan aktivitas dan reaksi metabolisme, meningkatkan penggunaan oksigen yang menyebabkan sirkulasi darah bertambah cepat, kecepatan dan kekuatan kontraksi serta penghantaran impuls lebih cepat, dan denyut nadi meningkat sesuai dengan peningkatan temperatur tubuh. Latihan pemanasan akan membantu melebarkan pembuluh darah otot dan secara bertahap dapat meregangkan tendon serta ligamen, sehingga memperkecil kemungkinan terjadinya cedera (Fox et al., 1993).

.2.  Manfaat Pemanasan
Kebanyakan orang yang melakukan aktifitas fisik secara teratur, sependapat bahwa ia memiliki alasan bahwa apa yang ia lakukan menyebabkan badan merasa lebih enak. Sehingga mereka dapat dikatakan lebih mementingkan kesehatan oleh aktifitas fisik yang teratur. Maka menurut Mangi R, Jokl P., dayton W., (1987)  perlu diketahui, dengan melihat manfaat pemanasan dari tiga segi yaitu,

1.      Fisiologis pemanasan
Secara fisiologis melakukan latihan pemanasan akan meningkatkan suhu tubuh dan otot. Contoh meningkatnya suhu tubuh dan otot akan meningkat dalam : aktivitas enzim, meningkatkan peredaran darah dan penyediaan oksigen, dan waktu kontraksi secara reflex (Fox et al., 1993). Sedangkan Bompa (1999) mengatakan sebagai akibat dari pemanasan yang dilakukan, suhu tubuh akan meningkat yang merupakan salah satu faktor yang memudahkan dalam unjuk kerja. 
Selanjutnya pemanasan akan merangsang aktivitas sistim syaraf pusat yang mengkoordinir sistim organisme, mempercepat waktu reaksi motorik dan memperhatikan koordinasi. Mekanisme fisiologis yang terlibat dalam proses pemanasan hampir semuanya tergantung pada temperatur. Selanjutnya yang ditingkatkan temperatur adalah :

1.1.   Meningkatkan laju metabolik ( pada titik sekuler) dengan cara menurunkan tingkat kritis untuk terjadinya reaksi kimia yang penting. Hal ini berarti penggunaan substrat akan efisien dan keadaan ini penting bagi penyediaan energi yang dibutuhkan untuk aktivitas fisik.
1.2.   Lebih mempercepat dan menyempurnakan disosiasi oksigen dari hemoglobin .
1.3.   Memperbesar pelepasan oksigen dari mioglobin
1.4.   Mempercepat dan menguatkan kontraksi otot .
1.5.   Memperbesar kepekaan reseptor syaraf dan kecepatan transmisi dari impuls syaraf ( fungsi system syaraf meningkat ).
1.6.   Merangsang pelebaran pembuluh darah sehingga meningkatkan aliran darah pada tempat tertentu.

2.      Psikologis pemanasan
Meskipun aspek ini belum banyak diteliti namun banyak terlihat bahwa,
2.1.    Atlet yang melakukan pemanasan cenderung lebih siap mental untuk menghadapi suatu event tersebut.
2.2.   Pemanasan bisa menjadi ajang/area yang pas untuk melepas kecemasan atlet .
2.3.   Atlet tertentu memanfaatkan periode pemanasan untuk berkonsentrasi. Hal ini penting untuk menyulut dan meningkatkan agresifitas.

3.      Pencegahan cedera
Peningkatan temperatur jaringan yang dihasilkan selama pemanasan akan mengurangi kejadian dan kemungkinan cedera pada otot. Sebagai contoh : elastisitas otot tergantung dari baik buruknya aliran darah. Otot yang tidak panas, volume darahnya rendah sehingga lebih rentan terhadap cedera atau kerusakan dibanding dengan otot yang volume darahnya tinggi. Luas gerak sekitar sendi juga meningkat pada temperatur yang lebih tinggi karena meningkatnya ekstensibilitas dari tendon, ligament dan jaringan ikat yang lain. Merupakan hal penting agar seseorang mempertimbangkan event yang berurutan untuk meningkatkan kelentukan dengan peregangan rutin
. Kelentukan harus dilakukan setelah pemanasan agar : (1) mendapatkan hasil terbaik dan (2) mengurangi resiko cedera akibat peregangan. Kerusakan jaringan ikat bisa terjadi apabia dilakukan peregangan yang berlebihan pada saat temperatur jaringan relatif rendah. Sehingga bagi mereka yang melakukan olahraga harus tetap melakukan pemanasan lebih dahulu, agar terhindar dari kemungkinan cedera.
Manfaat pemanasan menurut Jhon Byl (2004) untuk mengurangi resiko terjadinya cedera, meningkatkan kesiapan fisiologis dan psikologis dalam melakukan aktivitas sedangkan Shellok FG dan Prentice WE (1985), dalam penelitiannya mengenai manfaat pemanasan dihubungkan dengan streching, dan secara lengkap menghasilkan antara lain : pemanasan dihubungkan dengan temperatur menghasilkan peningkatan didalam pemisahan oksigen dari mioglobin dan hemoglobin, menurunkan activation energy rates terhadap reaksi kimia metabolisme, meningkatkan aliran darah ke otot serta mengurangi kekentalan otot, dan meningkatkan sensitivitas sel terhadap rangsangan syaraf, dan kecepatannya.
Manfaat lain menurut Shellok FG dan Prentice WE (1985) bahwa pemanasan juga dapat mengurangi kemungkinan timbulnya resiko-resiko cedera otot akibat olahraga. Meningkatkan flexibilitas melalui streching sebagai aktivitas persiapan awal disamping akan meningkatkan performa fisik. Dan pada akhirnya flexibiltas yang baik maka akan mengurangi resiko cedera saat melakukan olahraga.
Menurut  J. Alter Michael (2003) beberapa manfaat melakukan pemanasan yang baik yaitu : meningkatkan suhu (temperatur ) tubuh beserta jaringan-jaringannya, meningkatkan aliran darah melalui otot-otot yang aktif, meningkatkan detak jantung sehingga dapat mempersiapkan bekerjanya sistem kardiovaskular, menaikkan tingkat energi yang dikeluarkan oleh metabolisme tubuh, meningkatkan pertukaran hemoglobin oksigen dalam hemoglobin, meningkatkan kecepatan perjalanan sinyal syaraf yang memerintahkan gerakan tubuh, meningkatkan efesiensi dalam proses recicopral innervation, yang memudahkan otot-otot kontraksi dan relaksasi secara efisien dan cepat, meningkatkan kapasitas kerja fisik, mengurangi ketegangan pada otot dan terjadi peningkatan tubuh atlet secara psikologis.

3.   Bentuk –Bentuk Pemanasan
 Saat ini bentuk-bentuk pemanasan sangatlah banyak, hal ini dikarenakan pemanasan harus disesuaikan dengan olahraga atau aktivitas fisik yang dilakukan. Namun menurut J. Alter Michael (2003) dari berbagai bentuk-bentuk latihan pemanasan dapat dikelompokkan dalam tiga kategori, yaitu :
1.    Pemanasan pasif (Passive warm-up) merupakan latihan pemanasan dengan menggunakan peralatan khusus seperti penggunaaan bantalan pemanas (heating pads), mandi sauna (Hot showers), mandi air panas juga merupakan jenis pemanasan pasif.

2.    Pemanasan aktif (active warm-up) biasa juga disebut general warm-up merupakan tehnik pemanasan yang sering digunakan dalam latihan pemanasan. Tehnik ini menggunakan beberapa gerakan yang bervariasi dan secara tidak langsung berkaitan dengan gerakan yang dipakai dalam olahraga itu sendiri. Yang termasuk dalam tehnik ini adalah gerakan chalasthenics, jogging, jalan cepat.

3.    Formal warm-up (Specific warm-up), pemanasan ini meliputi gerakan-gerakan yang menirukan gerakan-gerakan yang digunakan dalam aktivitas olahraga yang sesungguhnya, dengan intensitas yang lebih berkurang (menurun).

Sedangkan menurut Burke dan Edmun R. (2001) bentuk pemanasan dikelompokkan menjadi 3 bentuk, pemanasan statis yaitu peregangan dari bagian tubuh atas menuju ke bawah atau sebaliknya, pemanasan dinamis yaitu gerakan yang dilakukan dengan saling berkaitan dan berkesinambungan dan pemanasan statis dan dinamis yaitu, penggabungan antara statis dan dinamis. Intensitas dan lamanya waktu dalam melakukan pemanasan sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan fisik atlet dan kondisi yang ada. Pada intinya pemanasan tersebut dilakukan cukup intensif untuk meningkatkan temperatur badan sehingga menyebabkan berkeringat akan tetapi jangan melakukan pemanasan terlalu berlebihan sehingga menyebabkan keletihan (J. Alter Michael, 2003).
Latihan yang dilakukan secara aktif dan sesuai dengan aktivitas yang akan dilakukan merupakan bentuk pemanasan yang paling baik dibandingkan dengan pemanasan pasif, karena dengan melakukan pemanasan cara ini suhu otot akan meningkat, demikian juga kekuatan otot akan bertambah besar disamping itu koordinasi dalam melakukan gerakan bertambah baik (Danny J, Josep H, et al., 2006).  Dengan melakukan pemanasan cara ini, kemampuan seseorang dapat meningkat 5-50% bila dibandingkan dengan tanpa pemanasan. Selanjutnya Danny J, et al., menjelaskan pemanasan aktif sangat efektif bila dipraktekkan dengan durasi waktu 5-30 menit. Astrand dan rodahl (2003)  mengungkapkan lamanya latihan pemanasan sekitar 15-30 menit. Untuk mengetahui pemanasan yang dilakukan cukup berpedoman pada denyut nadi (120 denyut/ menit).    
.4.  Peregangan
Setiap orang dapat melakukan peregangan tanpa memperhatikan umur maupun jenis kelamin, peregangan dapat dilakukan kapan saja ketika tubuh merasa kaku setelah duduk, berdiri atau bekerja dalam waktu yang lama.Pereganagan berhubungan dengan kelenturan (flexibilty) yaitu kemampuan untuk menggerakkan otot beserta persendian pada seluruh daerah pergerakan (J. Alter Michael, 2003). Menurut Arnold G. Nelson dan Jouko Kokonen (2007) peregangan adalah bentuk latihan yang  diberikan sebelum dan sesudah melakukan aktivitas fisik dan dapat dilakukan dimana saja yang anda sukai, dengan tujuan mengurangi kemungkinan timbulnya cedera, mendeteksi adanya otot atau sendi yang nyeri dan meningkatkan keleluasaan gerak.
Peregangan yang baik dan dilakukan dengan benar dapat memberikan pengaruh terhadap tubuh, mengurangi ketegangan otot dan membuat tubuh merasa lebih rileks, membantu koordinasi untuk memberikan gerakan yang lebih bebas dan lebih mudah, meningkatkan keleluasaan gerak, mencegah terjadinya cedera dan kekuatan otot, menjaga flexibiltas persendian dan membantu program pemanasan sebelum masuk aktivitas fisik yang sesungguhnya . Peregangan  yang dilakukan dalam waktu antara 5-10 menit akan meningkatkan kekuatan, ketahanan, flexibiltas dan mobilitas range of motion (ROM) (Arnold J. Nelson & Jouko Kokonen, 2007).
Secara umum ada 3 jenis tehnik  peregangan menurut  Arnold J. Nelson & Jouko Kokonen (2007) yang dapat dilakukan yaitu :
1.   Peregangan statis, merupakan tehnik peregangan yang paling banyak dipergunakan, meliputi peregangan secara pasif pada otot antagons teretentu dengan meregang pada posisi maksimal dan menahannya untuk beberapa saat. Waktu optimal yang diperbolehkan dalam menahan posisi regang ini bervariasi berkisar antara 3 detik terpendek sampai 60 detik terpanjang. 30 detik dianggap baik oleh beberapa orang. Peregangan statik pada tiap otot diulangi 3-4 kali.
2.   Peregangan balistik meliputi kontraksi berulang dari otot agonis ( searah ) untuk menghasilkan peregangan yang cepat dari otot antogonis (berlawanan). Teknik yang kelihatannya efektif ini telah benar-benar ditinggalkan oleh hampir semua ahli di lapangan karena peningkatan luas gerak dicapai dengan serangkaian hentakan dan tarikan pada jaringan otot yang tertahan. Apabila daya yang dihasilkan oleh hentakan itu lebih besar daripada kemampuan ekstensibilitas jaringan mungkin akan terjadi cedera
3.   Peregangan  Teknik proprioceptive Neuromuscular fasillitation ( PNF) banyak digunakan oleh para “Physical therapist” dalam memeriksa dan mempertimbangkan respon fisiologis dari sistem saraf, otot, persendian dan tendon.

Peregangan dilaksanakan sebelum dan sesudah latihan atau pertandingan. Dalam pemanasan, peregangan ditampilkan pada aktivitas pertama.

2.5.  Hakekat Pemanasan Pada Anak  Usia Sekolah Dasar
Pemanasan merupakan tahapan kegiatan yang dilakukan anak-anak dalam suatu pembelajaran olahraga. Pemanasan memilki peran yang sangat penting bagi anak-anak, sebelum masuk dalam kegiatan inti ketika mengikuti pembelajaran. Menurut Joe Luxbacher (2004) menyatakan bahwa pemanasan pada anak-anak berguna untuk menghangatkan suhu otot, melancarkan peredaran aliran darah dan memperbanyak aliran oksigen ke dalam tubuh, memperbaiki kontraksi otot dan kecepatan gerakan refleks, dan juga untuk mencegah kejang otot.
Pemanasan biasanya dilakukan dengan permainan seperti lari keliling lapangan, melakukan persegangan otot dengan gerakan statis dan dinamis. Bentuk bentuk pemanasan tersebut di atas, tidak ada salahnya digunakan dalam pembelajaran bagi siswa di sekolah dasar, akan tetapi bentuk bentuk gerakan pemanasan tersebut akan terasa tidak menarik atau bahkan anak anak menjadi bosan. Pemanasan yang menarik  sangatlah tepat diberikan bagi anak-anak di sekolah dasar. Bentuk-bentuk pemanasan yang menarik dapat dikemas dalam sebuah permainan. Menurut Agus Mahendra (2001) menyatakan bahwa ketika anak-anak melakukan pemanasan yang menarik, dapat diduga bahwa secara fisik dan mental anak akan siap untuk mengikuti pembelajaran. Kesiapan mereka ditandai oleh semangat mereka yang meningkat naik akibat kegiatan pemanasan.
Pemanasan dalam bentuk permainan biasanya mengandung unsur gerak yang cepat, baik yang berbasis lari atau melompat, maupun yang berbasis gerakan melempar maupun menangkap (Agus Mahendra, 2001). Oleh karena itu, permainan apapun yang dilakukan akan menuntut pesertanya untuk bergerak cepat dan bersifat terus menerus. Pengaruh yang ditimbulkan oleh si anak, akan berkembangnya kemampuan dalam hal kecepatan dan kekuatannya, serta tidak kalah pentingnya adalah kelincahan dan daya tahannya, termasuk daya tahan kecepatan (speed endurance).
Pelaksanaan pemanasan dalam setiap pembelajaran, harus memperhatikan petunjuk pelaksanaan pemanasan. Menurut Agus Mahendara (2001) menyatakan bahwa untuk pemanasan hendaknya mengikuti pedoman sebagai  berikut: 1) pemanasan cukup dilakukan sekitar 10 menit, 2) pilihlah kegiatan yang mudah di atur dan melibatkan semua anak dalam waktu yang sama, 3) variasikan setiap kegiatan pemanasan dengan memperkenalkan satu atau beberapa kegiatan baru, dan 4) berhentilah pada puncak kegiatan sehingga peserta akan kembali antusias pada pelajaran berikutnya.

2.6.  Karakteristik Anak Usia Sekolah Dasar
Anak sekolah dasar termasuk dalam masa anak besar. Anak besar adalah anak yang berusia antara 6 sampai dengan 10 atau 12 tahun, (Sugiyanto, 1991). Perkembangan fisik yang terjadi pada masa ini menunjukkan adanya kecenderungan yang berbeda dibanding pada masa sebelumnya dan juga pada masa sesudahnya. Kecenderungan perbedaan ini terjadi dalam hal kepesatan dan pola pertumbuhan yang berkaitan dengan proporsi ukuran bagian-bagian tubuh. Karakteristik anak usia sekolah dasar menurut Harsono (2000) adalah sebagai berikut:
1.    Periode umur 5-8 tahun, diantaranya: 1) pertumbuhan tulang tulang lambat, 2) mudah terjadi kelainan postur tubuh, 3) koordinasi gerak masih terlihat jelek atau kurang baik, 4) sangat aktif, main sampai penat, rentang perhatian atau konsentrasi sempit, ) dramatis, imajinatif, imitatif, peka terhadap suara-suara dan gerak ritmis, 6) kreatif, rasa ingin tahu, senang menyelidiki dan belajar melalui aktivitas, 7) senang membentuk kelompok-kelompok kecil, laki-laki dan perempuan mempunyai minat sama, 8) mencari persetujuan orang dewasa (orang tua, guru, kakak dan lain-lain), dan 9) mudah gembira karena pujian, tetapi mudah sedih karena dikritik.

2.    Periode umur 9-11 tahun, diantaranya: 1) dalam periode pertumbuhan yang tetap, otot-otot tumbuh cepat dan membutuhkan latihan, postur tubuh cenderung buruk, oleh karena itu dibutuhkan latihan-latihan pembentukan tubuh, 2) penuh energi, akan tetapi mudah lelah, 3) timbul minat untuk mahir dalam suatu keterampilan fisik tertentu dan permainan-permainan yang terorganisir, tetapi belum siap untuk mengerti peraturan yang rumit, rentang perhatian lebih lama, 4) senang dan berani menantang aktivitas yang agak keras, 5) lebih senang berkumpul dengan lawan sejenis dan sebaya, 6) menyenangi aktivitas yang dramatis, kreatif, imajinatif, dan ritmis, 7) minat untuk berprestasi individual, kompetitif, dan punya idola, 8) saat yang baik untuk medidik moral dan perilaku sosial, dan 9) membentuk kelompok-kelompok dan mencari persetujuan kelompok.

3.    Periode umur 11-13 tahun, diantaranya: 1) memasuki periode transisi dari anak ke pradewasa, perempuan biasanya lebih dewasa (mature) daripada laki-laki, akan tetapi laki-laki memiliki daya tahan dan kekuatan yang lebih, 2) Pertumbuhan tubuh yang cepat, tetapi kurang teratur, sering menyebabkan keseimbangan tubuh terganggu, karena gerakangerakannya cenderung kaku, dan dapat berlatih sampai penat, 3) lebih mementingkan keberhasilan kelompok/tim, dibanding individu, lebih menyenangi permainan dan pertandingan yang menggunakan peraturan resmi dan lebih terorganisir, ingin diakui dan diterima sebagai anggota kelompok, 4) adanya minat dalam aktivitas yang dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilannya, mulai adanya minat untuk latihan fisik, 5) senang berpartisipasi dalam kegiatan rekreasi aktif,  perlu ada bimbingan dan pengawasan dalam pergaulannya dengan lawan jenis, 6) kesadaran diri mulai tumbuh, demikian pula emosi, meskipun masih kurang terkontrol/terkendali, dan mencari persetujuan orang dewasa, 7) peduli akan prosedur-prosedur demokratis dan perencanaan tim, semakin kurang dapat menerima sikap otoritas dan otokrasi orang lain.
2.7.  Prinsip-prinsip Pemilihan Permainan
Pemilihan permainan yang akan diberikan kepada anak hendaknya perlu memperhatikan beberapa pertimbangan. Menurut Pangrazi (1989) apabila seorang guru dalam memilih dan mengevaluasi sebuah permainan yang akan diberikan kepada anak, perlu memperhatikan beberapa hal diantaranya: keterampilan yang diperlukan, jumlah anak yang ikut atau berpartisipasi, kompleksitas, panjangnya/lamanya permainan, dan kemajuan. Anak harus menerima umpan balik yang positif dari pengalaman permainan yang dilakukan. 
Apabila dalam melakukan permainan, anak merasa bosan dan tidak senang, maka evaluasi segera dilakukan untuk mengetahui kelemahan dan kekurangan permainan tersebut. Selanjutnya menurut Gabbard (1987) menyatakan bahwa dalam memilih sebuah permainan, perlu memperhatikan poin-poin yang harus diterapkan. Poin-poin tersebut diantaranya: 1) permainan harus bersifat menyenangkan, 2) permainan harus menyediakan aktivitas untuk semua anak secara maksimal, 3) meningkatkan pengembangan keterampilan gerak yang dibutuhkan, dan atau mengembangkan serta memilhara kebugaran, dan 4) mencakup keseluruhan peserta dan bukan pengurangan peserta permainan. 
Gabbard (1987) menyatakan bahwa diperlukan beberapa tambahan sebagai petunjuk dan pertimbangan dalam memilih permainan, yang diantaranya: 1) penggunaan kemajuan permainan, dari bentuk permainan yang kecil kemudian ke sebuah tim permainan, 2) ketika melakukan pemilihan permainan, diperlukan peningkatan /kemajuan jumlah dan kompleksitas peraturan serta strategi, 3) menggunakan situasi permainan untuk evaluasi dan meningkatkan perilaku afektif dan juga kecakapan keterampilan gerak, 4) keamanan harus sebagai dasar yang harus dipertimbangkan, 5) tempatkan anak ke dalam sebuah formasi dan buatlah petunjuk bila dimungkinkan, 6) meskipun partisipasi sangat ditekankan, jika partisipasi anak perlu dikurangi, disarankan hanya hanya satu atau dua putaran, dan 7) hindari penekanan yang berlebihan dalam sebuah kompetisi.
2.8.  Pemanasan Dalam Bentuk Permainan pada Anak Usia Sekolah Dasar.
Menurut Thomas Khaterine et al, (2000) dalam kegiatan pemanasan pada anak usia sekolah dasar biasanya lebih ditekankan latihan dalam bentuk permainan yang dilakukan meliputi latihan keterampilan.  Adapun latihan tersebut adalah sebagai berikut:

1.    Pengenalan bagian tubuh anak.
Peralatan yang digunakan adalah kantong kecil yang diisi dengan kapas. Pemanasan yang dilakukan adalah dengan melempar kantong-kantong dengan lemparan zig-zag secara berpasangan.
Setelah melakukan kegiatan tersebut, anak disuruh memegang kantong dan atas perintah meletakkan kantong tersebut ke bagian-bagian tubuh anak (misalnya kepala, bahu, tangan, kaki dll) kemudian anak menyebutkan bagian tubuh tersebut. Kegiatan ini dilakukan dengan berjalan ataupun di tempat.

2.    Melempar, Menangkap dan Melambungkan Kantong.
Melakukan lempar dan tangkap melewati tali. Pada lempar dan tangkap awal dilakukan tanpa menggunakan aturan. Setelah beberapa kali dilakukan kemudian digunakan aturan untuk melempar dengan tangan kanan (kecuali kidal) dan menangkap dengan tangan kiri. 

Selain menggunakan tali, lempar tangkap dapt pula dilakukan dengan menggunakan sinpai atau dengan pengungkit yang di injak sendiri agar kantong bisa melayang kemudian ditangkap.
Sedangkan menurut Jhon Byl (2004) menyatakan bahwa pemanasan tubuh dalam sebuah kelas pendidikan jasmani harus dilakukan dalam bentuk permainan rekreasi. Pada anak-naka usia sekolah dasar harus diberikan pemanasan yang membuat lebih banyak bergerak. Adapun pemanasan dalam bentuk permainan yaitu :

1.     Quick movement Games adalah berupa bentuk permainan yang berupa peningkatan gerakan secara positif baik fokus anak baik secara positif maupun kognitif misalnya : high fives games, aturan pemain dalam dua baris saling berhadapan dalam formasi pemain terhuyung adalah dua sampai empat langkah terpisah. bagi pemain untuk pemanasan oleh tos satu sama lain untuk waktu yang ditetapkan atau jarak. Cara bermain pemain pertama (P1)  berlari antara dua baris pemain, tos setiap pemain yang dilalui, ketika P1 mencapai akhir dari baris, lalu ia berdiri empat langkah didekat P7 pada deret terakhir.

2.    Octopus Tag, cara bermain satu orang berdiri di tengah-tengah area batasan. Sisa anak-anak berbaris pada akhir batas dan ketika tagger yang
mengatakan pergi mereka semua lari ke sisi lain dari batas. Siapapun tag tagger kemudian harus tinggal dan membantunya, kecuali bahwa orang-orang tambahan yang ditandai harus duduk, dan hanya bisa membantu dengan menggunakan tangan mereka. Ini kembali dan seterusnya sampai Anda turun ke orang terakhir yang kemudian memulai babak berikutnya. Ini permainan yang menyenangkan bila dimainkan dengan banyak anak-anak.

3. igator In The Swamp, kelompok pertama berbaring dengan tengkurap sebagai (buaya). Kelompok kedua adalah pelari. Pada sinyal mengatakan “GO” pelari harus berlari melintasi seluruh area bermain yang berlawanan dengan posisi baris agar aman dari buaya. Buaya meninggalkan lingkaran mereka untuk mengejar pelari. Jika pelari ditandai oleh buaya mereka harus duduk sampai pertandingan berikutnya. Ulangi ini dari sisi lain dari daerah bermain setiap kali. Ketika 3 sampai 5 orang yang tersisa, mulai lagi.

4.      Circle Relay, Kata Kuncinya menyelesaikan relay secepat mungkin. Aturan permainannya adalah pemain berdiri dengan jarak terpisah dalam formasi lingkaran dengan diameter delapan langkah. Cara bermain Pemain Pertama (P1) berlari dan melakukan tag kepada (P2). Selanjutnya (P1) menempati tempat (P2). P2 kemudian melakukan tag ke P3 dan begitu seterunya sampai pemain terakhir dan permainan selesai.

5.       Parachute Games adalah sebuah permainan yang melatih kerjasama, kepercayaan, komunikasi, keterampilan sosial anak dan melatih otot bagian atas. Cara permainan ini adalah melibatkan kain parasut lembut, bergerak atau berbaring di bawah atau di atasnya, dan melihat  itu naik dan turun, dan bola kegembiraan tambahan dapat ditambahkan. Berbagai macam permainan yang berbeda dapat dimainkan, bola dapat memantul atas dan bawah pada parasut, anak-anak belajar untuk bekerja sama untuk menjaga bola pada parasut atau memantul mereka.


3.      KESIMPULAN
Latihan pemanasan (Warming-up) merupakan salah satu bagian dasar dari program latihan permulaan (conditioning program), latihan pemanasan terdiri dari sekelompok latihan gerakan yang dilakukan pada saat hendak melakukan aktivitas olahraga (J.After Michael, 2003). Pemanasan hendaklah terdiri dari tiga bagian yaitu : peregangan (streching), senam (chalestenic) dan aktivitas formal (formal activity). Secara fisisologis melakukan latihan pemanasan akan meningkatkan suhu tubuh dan otot. Contoh meningkatnya suhu tubuh dan otot akan meningkat dalam : aktvitas enzim, meningkatkan peredaran darah dan penyediaan oksigen, dan waktu kontraksi secara reflex (Fox et al., 1993). Manfaat pemanasan menurut Jhon Byl (2004) untuk mengurangi resiko terjadinya cedera, meningkatkan kesiapan fisiologis dan psikologis dalam melakukan aktivitas.
menurut J. Alter Michael (2003) dari berbagai bentuk-bentuk latihan pemanasan dapat dikelompokkan dalam tiga kategori, yaitu : Pemanasan pasif (Passive warm-up) merupakan latihan pemanasan dengan menggunakan peralatan khusus. Pemanasan aktif (active warm-up) biasa juga disebut general warm-up tehnik ini menggunakan beberapa gerakan yang bervariasi dan secara tidak langsung berkaitan dengan gerakan yang dipakai dalam olahraga itu sendiri. Formal warm-up (Specific warm-up), pemanasan ini meliputi gerakan-gerakan yang menirukan gerakan-gerakan yang digunakan dalam aktivitas olahraga yang sesungguhnya, dengan intensitas yang lebih berkurang.
Pemanasan merupakan tahapan kegiatan yang dilakukan anak-anak dalam suatu pembelajaran olahraga. Pemanasan memilki peran yang sangat penting bagi anak-anak, sebelum masuk dalam kegiatan inti ketika mengikuti pembelajaran. Pemanasan dalam bentuk permainan biasanya mengandung unsur gerak yang cepat, baik yang berbasis lari atau melompat, maupun yang berbasis gerakan melempar maupun menangkap (Agus Mahendra, 2001). Anak sekolah dasar termasuk dalam masa anak besar. Anak besar adalah anak yang berusia antara 6 sampai dengan 10 atau 12 tahun, (Sugiyanto, 1991). Perkembangan fisik yang terjadi pada masa ini menunjukkan adanya kecenderungan yang berbeda dibanding pada masa sebelumnya dan juga pada masa sesudahnya.
Menurut Pangrazi (1989) apabila seorang guru memilih permainan yang akan diberikan kepada anak, perlu memperhatikan beberapa hal diantaranya: keterampilan yang diperlukan, jumlah anak yang ikut atau berpartisipasi, kompleksitas, lamanya permainan, dan kemajuan. Anak harus menerima umpan balik yang positif dari pengalaman permainan yang dilakukan. 




DAFTAR PUSTAKA
Agus Mahendra. (2003). Falsafah Pendidikan Jasmani. Jakarta: Depdiknas, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, Pendidikan Luar Biasa, Bagian Proyek Pendidikan Kesehatan Jasmani Pendidikan Luar Biasa.
Alter, Michael J. 2003. 300 Tehnik Peregangan Olahraga. Jakarta : PT. Raja Grafindo persada.
Arnold G. Nelson and  Jouko Kokonen, 2007. Stretching Anatomy.  USA : Human Kinetics.
Astrand, P.O. and K. Rodhal. 2003. Textbook of Work Physiology, Physiological  Bases of Exercise Human Kinetics. UK: Kinetics, Stanningley.
Byl, Jhon. 2004. 101 Fun Warm-Up and Coll Down Games. New zealand: Human Kinetics.
Bompa, Tudor O. 1999. Theory and Methodology of Training : The Key to Athletic Performance. Auckland New Zealand: Human Kinetics.
Burke, Edmund R.2001. Panduan Lengkap Latihan Kebugaran Dirumah. Jakarta : PT. Rajagrafindo persada.
Danny J. McMillian, Josep H. Moore, Brian S. Hatler, Dean C. Taylor, 2006. Dynamic vs Static- Streching Warm-Up : The Effect On Power And Agility Performance. Journal of Strength and Condition Reseacrh. New York. Pp 20(3), 492-499. 
Fox E et al., 1993. The Pysiological Basis for Exercise and Sport. WCB. Brown and Bencmark. Inc.
Gabbard, Carl. et al,. 1987. Physical Education for Children: Building the Foundation. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
Harsono. (2000). Pemanduan dan Pembinaan Bakat Usia Dini. Jakarta: KONI.
Joe Luxbacher. (2004). Sepakbola: Taktik dan Teknik Bermain. Jakarta: Raja  Grafindo Persada.
Mangi, R., Jokl P., dayton W., 1987. Sports Fitness and Training. Pantheon Books  New York.
Pangrazi, Daur P. dan Daur, Victor P. 1989. Dynamic Physical Education for Elementary School Children. (Nine Edition). USA: Macmillan Publishing Company.
Shellock, FG., Frentice, WE., 1985. Warming-Up and Streching For Improved Physical Performance and Prevention Of Sports-Related Injuries.
Strauss R.H, 1979. Sport Medicine And Physiology. W.B. Saunders.  
Sugiyanto. (1991). Perkembangan Gerak. Jakarta: Depdikbud, Proyek Penataran Guru, Bagian Proyek Penataran Guru Penjas.
Thomas. Katherine T.. Lee. Amelia M..Thomas. Jerry R. (2000). Physical Education For Children: Dailly Lesson Plans for Elementary School-2nd ed. United Stated: Human Kinetic.

Sumber lain :
Http://Www.Easy-Party-Ideas-And-Games.Com/ (diakses pada 18 November 2013).
http://www.gctrips.org/bahamas.htm (diakses pada 18 November 2013).

                     
 


Featured Post

CEDERA PADA OLAHRAGA TENIS LAPANGAN

Sport_Medicine_Online Teknik, Sarana dan Perlengkapan Tenis Lapangan A.        Latar belakang Olahraga tenis merupakan salah satu ol...